Home / Islamiah / Peran Al Azhar dalam Kemenangan Perang Melawan Israel pada 10 Ramadan 1393 H
Sumber : Turoseyat

Peran Al Azhar dalam Kemenangan Perang Melawan Israel pada 10 Ramadan 1393 H

Kemenangan Mesir melawan Israel di semenanjung Sinai pada 10 Ramadan 47 tahun lalu, tidak hanya ditopang kekuatan senjata saja. Perang yang bertepatan dengan 6 Oktober 1973 itu juga disokong oleh kekuatan iman, keyakinan akan kehadirat Allah Swt., dan mulianya tujuan Mesir dalam berperang.

Dr. Usamah Al Azhari menegaskan bahwa selama perang 10 Ramadan berlangsung, Al Azhar As Syarif memiliki peran besar. Kala itu, ulama Al Azhar terjun ke medan perang untuk memantapkan spirit perjuangan prajurit. Para ulama juga turun ke parit-parit pertahanan dan memasuki barak militer dengan membawa surat izin khusus berwarna merah.

Berdasarkan cerita yang dibawakan Syekh Umar Hasyim, saat itu Grand Syekh Dr. Abdul Halim Mahmoud berkumpul dengan para staf pengajar Universitas Al Azhar, para pendakwah, dan para prajurit. Grand Syekh meminta jajarannya agar mereka memberikan semangat penuh juang untuk para prajurit.

Dalam pertemuan kala itu, ada yang memfatwakan agar para prajurit mengambil rukhshah atau keringanan untuk tidak berpuasa, dengan pertimbangan panasnya cuaca dan kebutuhan prajurit akan tenaga penuh untuk mengangkat senjata.

Namun, sebagian prajurit menjawab dengan “Kami tidak ingin makan kecuali di surga!”

Adanya dorongan semangat dari masyayikh Al Azhar inilah yang membangun mental para prajurit, hingga mereka tak gentar melawan Zionis Israel pada bulan suci Ramadan. Dalam peperangan, selain alutsista yang memadai, faktor mental juga sangat diperhitungkan.

Mimpi Grand Syekh Dr. Abdul Halim Mahmoud

Menurut Dr. Mahmoud Mohenna, dua hari sebelum meletusnya perang 10 Ramadan, Grand Syekh Dr. Abdul Halim Mahmud bermimpi. Dalam mimpi, Grand Syekh melihat Rasulullah Muhammad saw. menyeberang Terusan Suez bersama para ulama dan tentara Mesir. Dari mimpi inilah Grand Syekh yakin bahwa kemenangan ada di tangan Mesir.

Segera setelah Grand Syekh Dr. Abdul Halim Mahmoud terbangun, beliau menemui Presiden Anwar Sadat dan memintanya segera mengumumkan perang. Grand Syekh juga berpidato di mimbar masjid Al Azhar di hadapan publik dan menekankan bahwa perang melawan Israel ialah perang di jalan Allah.

Mereka yang Terjun ke Medan Perang

Banyak ulama Al Azhar yang turut terjun dalam perang 10 Ramadan 47 tahun lalu. Kontribusi mereka terbagi dalam dua lini; lewat pidato heroik dan lewat senjata.

Mereka yang terkenal dalam hal memberikan semangat juang kepada prajurit lewat pidato-pidato ialah Syekh Muhammad al Fahham, Syekh Abdul Halim Mahmoud, Syekh Muhammad Ghazali, dan Syekh Muhammad Mutawalli as Sya’rawi.

Adapun masyayikh yang mengangkat senjata bersama para prajurit ialah Dr. Toha Abou Karisha (anggota Hai`ah Kibar Ulama), Syekh Salah Nashar (mantan kepala Pembina Masjid Al Azhar), Dr. Mahmoud Mohenna (anggota Hai`ah Kibar Ulama), dan Dr. Alawi Amin.

Nama lain yang disebut Dr. Mahmoud Mohenna (veteran perang 10 Ramadan dan sekarang menjabat anggota Hai`ah Kibar Ulama) ialah Maher Aziz Hana, Salah ‘Ashmallah, Mostafa Ibrahim Mansi, Mohammad Abdussabur Hilal, Abdul Aziz Tamam Yousef, dan Mohammad Ali Utsman Harbi.

Dirangkum dari berbagai sumber.

 

 

Lihat Juga

Fikih Kehidupan: Nilai Nyawa Seorang Muslim

Salah satu kitab yang berfokus membahas kode etik peperangan adalah ‘Al Ahkam As Sulthaniyyah wal …