Home / OPINI / kolom

kolom

Waktu Luang

Tilik viral. Film pendek yang disutradarai oleh Wahyu Agung Prasetyo itu cukup berhasil membuat perbincangan kawan-kawan komunitas kritik film yang saya ikuti di Kairo menjadi lebih hangat. Ada seorang kawan yang mengaku sudah menonton film itu berkali-kali dan ia tetap terbahak-bahak dengan dialog kocak para pemainnya. Ia yang orang Jawa …

Read More »

Pengaruh Al-Azhar dalam Isu Palestina

Konflik Palestina berpangkal pada ketegangan politik dan nasionalisme Yahudi-Arab. Ketegangan ini telah ada semenjak berabad lalu. Di paruh kedua abad lalu, konflik kemudian memuncak seiring dengan pendudukan Israel atas wilayah West Bank dan Jalur Gaza. Di antara isu kunci yang menjadi fokus ialah Palestina ingin Israel mengembalikan seluruh wilayah yang …

Read More »

Merdeka dengan Membaca

Pada zaman Hindia Belanda, para pelajar di Algemene Middelbare School (AMS) yang setara dengan Sekolah Menengah Umum (SMU) sekarang diwajibkan untuk membaca. Siswa diminta melahap paling tidak 20 sampai 25 buku karya sastra selama tiga tahun masa studi mereka. Kegiatan membaca biasanya diikuti dengan menulis karangan setiap minggunya. Dapat dibayangkan …

Read More »

Apofatik: Kebisuan yang Berbicara

/1/ Muhammad Al-Fayyadl menyebut bahwa ada dua jalur untuk “membicarakan” Tuhan. Pertama, melalui jalur dirkursus, artinya menggunakan pendekatan naratif yang diskursif untuk menguraikan, mendedahkan, membantah, dan mendekati Tuhan dengan bahasa. Jalur ini yang selama ini mungkin dilakukan oleh para cendikiawan, baik itu muslim maupun non-muslim. Kedua, melalui jalur non-diskursus, atau …

Read More »

Perihal Simbol dan Metafora dan Persinggungan Keduanya

Yang menarik dari dari ketidak-tertarikan kita pada bahasa Indonesia kita adalah kesalahpahaman yang disengaja. Kita sering mendengar orang mengatakan apa yang sebenarnya A yang bukan B sebagai B yang lain dari A. Salah satunya perkara ini: Apakah simbol sama dengan metafora? Apakah simbol harus menjalani maknanya yang paling asali sebelum …

Read More »

SERIUS

Ada dua jenis manusia di dunia ini. Pertama, manusia yang serius. Kedua, manusia yang main-main. Dari kedua jenis itu—nantinya, akan muncul cabang lain yang akan menjadi titik tolak tulisan ini. Baiklah. Kita bahas dulu kedua jenis di atas. Begini: saya berulangkali bertemu dengan jenis manusia pertama. Mulai dari aktivis, bisnismen, …

Read More »

Facebook

Bagaimana jejaring ini hendak menyumbat keraguan? Entah di zaman yang bagaimana kita hidup. Semua serba mendadak dan membutuhkan pemahaman yang mendadak pula. Semua tak bisa pelan, satu sama lain saling menyalip, menyikut, menundung dan akhirnya menjatuhkan. Ada kesegeraan yang kita tuai di tiap kita membuka jejaring sosial. Di sana, manusia …

Read More »

Manusia dan Syahwat Identitas

Tan Malaka, dan mungkin juga banyak dari filsuf lainnya, mengatakan bahwa “tak ada definisi maka tak ada ilmu”. Dari teropong yang jauh dan dipasang di paling ujung Everest pun kita musti sudah tahu pentingnya definisi untuk membatasi jangkauan ilmu-ilmu. Bahkan kita memang terlanjur mengangguk pada perkataan banyak filsuf bahwa definisilah …

Read More »

‘Memaafkan’ dalam Spektrum Dialektika

Entah secara tiba-tiba, di tengah menderunya pikiran yang koyak-moyak memikirkan yang seharusnya tidak musti dipusingkan, saya teringat tentang ‘memaafkan’—yang bagi saya, belakangan ini, serasa sangat sakral dan bersifat nir-realitas (meskipun dianggap realistis). Pada satu kesempatan, entah di kali apa, kata ‘memaafkan’ didefinisikan sedemikan tidak wajar oleh seseorang yang entah (saya …

Read More »

Celana Dalam Revolusi

Aku mencari perbedaan Antara Revolusi dan Perang Ketika selongsong peluru Melewati tubuhku Ghayath Almadhoun dalam Selebration (Alhaflah, Perayaan). Penyair Syiria itu barangkali bukan bertanya, tapi menohok. Atau mencoba mencekoki kita dengan beribu kesangsian tentang sejarah revolusi dan perang. Tak ada sejarah revolusi yang tanpa perang! Begitukah? Kita telah disibukkan oleh …

Read More »