Home / Islamiah / Fikih Kehidupan: Adakah Sebenarnya Penyakit yang Menular?
Gambar oleh Sofiane Dougheche dari Pixabay

Fikih Kehidupan: Adakah Sebenarnya Penyakit yang Menular?

Mungkin, sebagian orang berfikir sederhana; “Penyakit, ya, bisa menular.” Asumsi itu seperti hal yang sangat wajar di tengah mereka, akan tetapi kewajaran itu ternyata tidak sampai pada titik absolut yang disepakati oleh semua kepala. Nyatanya, masih banyak yang memiliki keyakinan bahwa tidak ada yang namanya ‘penyakit menular’, dan semuanya dari Allah Swt.

Kalau ditakdirkan sakit ya sakit aja, kalau ditakdirkan sehat ya pasti bakal sehat. Bahkan sekelas Ibnu Hajar Al Asqalani meyakini bahwa tidak ada penyakit yang menular.

Beliau menantang orang yang mengatakan bisa menularnya sebuah penyakit agar menjawab hipotesa berikut: Jika ada tiga orang sakit, orang kedua ditulari oleh orang pertama, orang ketiga ditulari oleh orang ke dua, maka siapakah yang menulari orang pertama, tidak ada, kan? Ini menunjukan bahwa segala penyakit murni dari Allah langsung, takdir-Nya-lah yang menentukan.

Duduk permasalahannya, ternyata karena ada persilangan zahir dua hadis Rasulullah Saw. yang satu menghukumi bahwa tidak ada satu penyakit pun yang bisa menular, seperti hadis لا عدوى ولا طيرة (tidak ada penularan sebuah penyakit) dan لا يعدي شيئ شيئا (tidak ada suatu penyakit yang bisa menular kepada orang lain), dan hadis satunya menunjukan bahwa sebuah penyakit pada dasarnya bisa menular, seperti makna dari hadis فرّ من المجذوم فرارَك من الأسد (larilah kamu dari penderita kusta sebagaimana kamu lari dari singa) dan إذا سمعتم بالطاعون بأرض فلا تقدموا عليها (jika kalian mendengar adanya wabah di suatu daerah, maka janganlah memasukinya).

Imam Ibnu Shalah berkata dalam menyikapi pertentangan makna zahir dua hadis ini, “Agar keduanya tidak saling bertentangan, maka maknanya adalah bahwa penyakit tidak bisa menular itu benar, dalam arti menular dengan kekuatan yang dimiliki penyakit itu sendiri (jika sebaliknya, maka ada kekuatan lain selain kekuatanNya).”

“Dan makna sebuah penyakit bisa menular juga benar, dengan arti bahwa yang mengatur penularannya adalah Allah dengan menciptakan hukum sebab akibat (makan menyebabkan kenyang, hakikatnya Allah-lah yang menjadikan makan sebab perantara adanya kenyang, bukan makan itu sendiri).”

Imam Baihaqi juga mempunyai sikap terkait pertentangan makna dua hadis di atas:

“Semua orang yang sakit, tidak akan terlepas dari takdir Allah Swt. Ada yang sakit bukan akibat penularan. Nah, dulu jika ada orang yang sakit begini, maka orang-orang arab jahiliah terbiasa meyakini bahwa yang membuat sakit bukanlah Allah, sehingga Nabi menegaskan ‘tidak ada penyakit yang menular’ untuk membenarkan keyakinan mereka bahwa penyakit itu datangnya dari Allah.”

“Ada juga yang sakit karena sebab penularan, terkadang Allah menciptakan penyakit pada diri seseorang disebabkan karena dia berkumpul dengan orang yang sakit, sisi itulah yang mendorong Nabi mengajarkan bahwa ‘ada penyakit yang menular’ sebagaimana hadis kedua di atas”.

Benang merah persilangan kedua hadis di atas adalah perbedaan sudut pandang. Secara teologis, kita tidak boleh meyakini adanya penyakit yang menular karena kekuatan penyakit itu sendiri sehingga menduakan kekuatan-Nya, sebagaimana makna hadis pertama. Dan secara hukum alam, kita boleh mengatakan sebuah penyakit bisa menular kepada yang lain, menular dengan takdir-Nya yang telah mengatur hukum itu.

Jadi, penularan sebuah penyakit benar adanya, dan sebuah penularan tidak terlepas dari ketentuan Dzat yang Maha Agung. Didukung dengan hasil riset para dokter yang mengatakan bahwa kotoran-kotoran dan bakteri-bakteri yang ada bisa membawa sekaligus memindahkan penyakit dari satu tempat ke tempat lain.

Kewajiban kita adalah tidak menjerumuskan diri ke dalam jurang kehancuran, dengan mengambil jalan ‘usaha pencegahan’ yang terbaik, kemudian bertawakkal kepada-Nya. 🍃☕️

Lihat Juga

Fikih Kehidupan: Nilai Nyawa Seorang Muslim

Salah satu kitab yang berfokus membahas kode etik peperangan adalah ‘Al Ahkam As Sulthaniyyah wal …