Home / Islamiah / Fikih Kehidupan: Berhenti di Bulan Ramadan
Gambar oleh Sofiane Dougheche dari Pixabay

Fikih Kehidupan: Berhenti di Bulan Ramadan

Ketika manusia sedang dalam perjalanan, dan merasa tersesat salah jalan, yang harus dia lakukan adalah berhenti terlebih dahulu untuk berfikir dan mengingat jalan yang seharusnya dia lewati, kemudian melanjutkan perjalanan. Bagi seorang muslim, waktu untuk berhenti itu adalah bulan Ramadan.

Manusia juga memiliki dua unsur bangunan dalam dirinya agar bisa bertahan hidup: jasad dan ruh. Yang membuat seorang muslim tersesat dalam perjalanannya adalah adanya ketidakseimbangan antara dua unsur itu. Seringkali unsur jasadlah yang mendapatkan porsi makanan lebih daripada ruh. Ramadan adalah waktu yang sangat tepat untuk menyeimbangkan dua unsur dalam diri manusia untuk tetap hidup di jalan yang benar.

Ada tiga poros besar simbol nikmat kehidupan: langit, surga, dan rahmat kasih sayang. Al-Qur’an telah melukiskan langit sebagai sumber rezeki dan keberkahan; ففتحنا أبواب السماء بماء منهمر (maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengar air yang tercurah).

Pun dengan surga, kenikmatan di dalamnya tidak bisa diterka sama sekali: ما لا عين رأت، ولا أذن سمعت ولا خطر على قلب بشر (kenikmatan surga tidak pernah dilihat oleh mata, tidak didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbesit dalam hati manusia satu pun). Sedangkan rahmat kasih sayang, Al-Qur’an dengan sangat gamblang tujuan utama diutusnya Rasulullah saw. adalah untuk menebarkan rahmat untuk semesta: وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين (tidaklah aku mengutusmu wahai Muhammad kecuali sebagai rahmat untuk semesta).

Jika ketiga hal tersebut adalah poros simbol kebaikan, dan Ramadan telah mengumpulkannya dalam satu waktu, maka sungguh kemuliaan Ramadan adalah kemuliaan yang tiada tara.

Tiga perbedaan riwayat tentang masuknya bulan Ramadan cukup menjadi pegangan bagi seorang Muslim untuk berdiam sejenak sebelum melanjutkan perjalanan, dan memberikan porsi lebih untuk ruh agar seimbang kembali dengan unsur jasad.

Riwayat Bukhari mengatakan:

‎إذا دخل شهر رمضان فُتحت (أبواب السماء) وغُلِّقت أبواب جهنم وسُلسِلت الشياطين

Juga dua riwayat Muslim lainnya mengatakan:

(فتِّحت أبواب الجنة) dan (فتحت أبواب الرحمة)

“Jika masuk bulan Ramadan, maka dibukalah (pintu langit), (pintu surga), dan atau (pintu rahmat), dikuncilah pintu neraka, dan dibelenggulah setan-setan penggoda.”

Ada ulama yang berpandangan bahwa perbedaan redaksi hadis di atas sebenarnya saling menafsirkan dan menguatkan satu sama lain, karena esensi dari ketiganya sama, yaitu sebuah kenikmatan bagi seorang muslim.

Marhaban ya Ramadhan.

Lihat Juga

Fikih Kehidupan: Nilai Nyawa Seorang Muslim

Salah satu kitab yang berfokus membahas kode etik peperangan adalah ‘Al Ahkam As Sulthaniyyah wal …