Home / Islamiah / Fikih Kehidupan: Nilai Nyawa Seorang Muslim
Gambar oleh Sofiane Dougheche dari Pixabay

Fikih Kehidupan: Nilai Nyawa Seorang Muslim

Salah satu kitab yang berfokus membahas kode etik peperangan adalah ‘Al Ahkam As Sulthaniyyah wal Wilayat Ad Diniyyah’ karangan Imam Abul Hasan Al Mawardi (450 H).

Seorang ulama tersohor dari kalangan Syafiiah, beliau sering menjadi rujukan ulama generasi berikutnya, seperti Ibnul Jauzi dalam ‘Zadul Masir’ dan Al Qurthubi dalam ‘Al Jami’ li Ahkamil Quran’. Bahkan Syekh Thaha Rayyan yang bermadzhab maliki, penyandang gelar ‘Syaikhul Malikiyyah’, juga mengajarkan kitab ini yang notabene pengarangnya bermazhab Syafii.

Al Mawardi menyebutkan sebuah kasus dalam kitab itu dengan beberapa kemungkinannya:

“ولو تترّسوا بأسارى المسلمين ولم يوصل إلى قتلهم إلا بقتل الأسارى لم يجز قتلهم، فإن أفضى الكفّ عنهم إلى الإحاطة بالمسلمين توصلوا إلى الخلاص منهم كيف أمكنهم وتحرّزوا أن يعمدوا إلى قتل مسلم في أيديهم، فإن قتل ضمنه قاتله بالدية والكفارة إن عرف أنه مسلم وضمن الكفارة وحدها إن لم يعرفه”

1) Jika musuh membentengi pasukan mereka dengan ‘para tawanan Muslim’ di barisan depan, sedangkan kita tidak bisa membunuh musuh kecuali dengan membunuh barisan depan (tawanan Muslim), maka tetap saja tidak boleh membunuh barisan depan musuh.

2)  Jika menahan diri tidak menyerang, demi tidak membunuh ‘tawanan Muslim’ malah memberikan kesempatan kepada musuh untuk menyerang, maka kita harus bertahan dan menghindari tawanan Muslim sebisa mungkin, dan juga tidak boleh menyengaja membunuh satupun tawanan Muslim tersebut.

3) Jika tidak sengaja membunuh tawanan Muslim demi bertahan, maka yang membunuh wajib membayar ‘diyat’ dan atau ‘kafarat’ nyawa.

Kalau boleh sedikit diulik, maka aturan dalam kondisi di atas sebenarnya sangat merugikan pasukan Islam, bahkan bisa menyebabkan kekalahan dan nyawa pun akan banyak yang terkorbankan, sekalipun itu sifatnya masih kemungkinan. Tapi, kemungkinan yang sangat buruk itu tetap menjadi pilihan demi menyelamatkan ‘satu nyawa seorang Muslim’.

Bagaimanapun juga, tidak ada dalam kamus Islam dibolehkan membunuh Muslim tanpa alasan yang syar’i. Yang lebih mengherankan lagi, dalam keadaan bertahan dan tidak disengaja membunuh seorang Muslim, dia harus membayar denda atas perbuatannya. Dua aturan pertama sekilas merugikan umat Islam, dan aturan ketiga merugikan seorang pasukan perang umat Islam yang sedang berperang.

Pun imam Isnawi dalam Nihayatussul syarah Minhaj lil Baidhawi ketika membahas syarat keargumentasian Al Munasib Al Mursal (mashlahah mursalah), menyebutkan sebuah kasus:

“كما لو أشرفت السفينة على الغرق وقطعنا بنجاة الذين فيها لو رمينا واحدا في البحر، فإنه لا يجوز الرمي”

Jika ada lima orang di atas sebuah kapal yang hampir tenggelam karena berat yang berlebih, kemudian empat dari mereka bisa dipastikan akan selamat dengan melemparkan satu dari mereka ke laut, maka hukumnya tidak boleh melemparkan dia ke laut. Artinya, lebih baik lima nyawa melayang dari pada mengorbankan satu nyawa dengan sengaja demi menyelamatkan empat nyawa.

Unik sekali memang, bahkan pendapat di atas adalah pendapat Imam Ghazali yang kemudian diamini oleh Imam Baidhawi.

🍃☕️

Lihat Juga

Ramadan di Tengah Pandemi, Apa yang Sebenarnya Kita Rindukan?

Dua pekan terakhir, sering tersiar di media sosial doa-doa agar dipertemukan kembali dengan bulan suci …