Home / FATWA PUASA / Hukum Melakukan Enema bagi Orang yang Berpuasa
Freepik Premium

Hukum Melakukan Enema bagi Orang yang Berpuasa

Enema adalah prosedur pemasukkan cairan ke dalam kolon melalui anus. Prosedur ini merupakan jenis pengobatan alternatif yang dilakukan untuk membersihkan usus besar dan untuk manfaat lain.

Mayoritas ulama menyatakan bahwa melakukan enema saat berpuasa dapat membatalkan puasa jika dilakukan dengan sengaja dan berdasarkan pilihan (bukan sebab sakit atau darurat). Alasan mengapa batal, yaitu karena dalam proses tersebut terjadi proses pemasukan cairan ke dalam lubang atau saluran yang terbuka.

Menurut Al Lakhamy (ulama mazhab Maliki), bahwa enema itu diperbolehkan dan tidak membatalkan puasa. Dalam kitab “Al Kafi fi Fiqhi Ahli Madinah”, Al Hafiz bin Abd al Barr al Maliki berkata:

Melakukan suntik ketika berpuasa itu dihukumi sunah (karena dalam rangka pengobatan). Selain itu, hal yang membatalkan puasa ialah masuknya sesuatu ke dalam mulut kemudian melewati perut (bukan anus).

Pendapat lain dari kalangan ulama mazhab Maliki menyatakan bawa enema itu makruh dilakukan saat berpuasa. Hal ini tertulis dalam kitab “At Taudhih fi Syarhi Mukhtashar ibn Al Hajib” dan dalam kitab “Syarh Zarouq ala Matni ar Risalah,” di situ Ibnu Habib berkata:

“Para ulama salaf dan ahli ilmu memakruhkan proses pengobatan dengan cara suntik enema ketika berpuasa, kecuali dalam keadaan darurat. Darurat di sini dalam arti tidak ada cara pengobatan lain yang tepat nan efektif.”

Ibnu Juzay al Maliki dalam kitab “Alqawanin al Fiqhiah” berkata:

“Hukum bersuntik saat berpuasa ada tiga:

  • Membatalkan puasa. Pendapat ini sesuai dengan pendapat Imam Hanafi dan Imam Hambali (Baik berupa suntik biasa atau suntik enema).
  • Tidak membatalkan puasa.
  • Melakukan suntik saat berpuasa bisa membatalkan puasa ketika suntik tersebut berisi cairan, dan tidak membatalkan pausa jika yang dimasukkan berupa obat kapsul non cair melalui anus.

Kesimpulan:

Jika mengikuti pendapat di atas, yakni mazhab Maliki, maka seseorang diperbolehkan melakukan enema ketika berpuasa jika ia dalam keadaan darurat dan harus segera melakukan enema. Darurat di sini dalam arti enema tersebut harus segera dan tidak boleh menunggu waktu iftar.

Keadaan di atas tidaklah membatalkan puasa, dan puasanya tetap sah. Selain itu, seseorang tadi juga tidak harus mengqada puasa. Namun, tetap dianjurkan untuk mengqada puasa tersebut agar terhindar dari perdebatan para ulama yang mayoritasnya mengatakan bahwa enema itu membatalkan puasa.

Sumber:
Fatwa Darul Ifta

Check Also

Apa Hukum Puasa Tasu’a dan Asyura?

Hukum berpuasa pada tanggal 9 dan 10 bulan Muhram adalah sunnah mustahabbah. Sesuai dengan riwayat  …