Home / MASISIR / Seminar IALF; Langkah Awal Wihdah Menggenjot Kemampuan Mahasiswi dalam Berbahasa Arab
Sumber Foto : akun Instagram @wihdahppmi

Seminar IALF; Langkah Awal Wihdah Menggenjot Kemampuan Mahasiswi dalam Berbahasa Arab

Sebagai tholibah azhariyah, adalah aib bila tidak cakap dalam berbahasa Arab. Namun semakin ke sini, mahasiswi Al Azhar malah dinilai krisis dalam bahasa Arab, terbukti dengan  belum adanya figur mahasiswi yang mewakili Indonesia dalam acara internasional berbahasa Arab. Hal ini juga dirasakan oleh mahasiswi dari negara lain, khususnya Asia Tenggara seperti Malaysia dan Thailand.

“Sebagaimana disampaikan oleh Dr. Usman Syihab, MA., sampai saat ini belum ada mahasiswi Indonesia yang menjadi figur atau menonjol dalam acara-acara internasional berbahasa Arab. Terlebih lagi di perlemen Al Azhar,” tutur ketua panitia IALF, Dina Fornia (02/08/19).

IALF (International Arabic Languange Forum) sendiri merupakan agenda yang beruntun. Pertama yaitu seminar, kemudian pelatihan debat, pelatihan terjemah, dan ditutup dengan olimpiade pada Februari 2020 mendatang. 

Dalam seminar bertajuk Grand Opening IALF (International Arabic Languange Forum) pada Ahad (4/8) di Auditorium Dewan Malaysia, Abbasiyah, Kairo, Wihdah menghadirkan tiga pembicara. Mereka ialah Ustaz Aam Abdussalam, Ustaz Cecep Tufiqurrohman, dan Ustaz Syarafudin Azhary.

Sebagai pembicara pertama, Ustaz Aam Abdussalam menyampaikan tentang peran bahasa Arab dalam Alquran dan Sains. Beliau mengawali dengan pertanyaan “Apakah bisa kita menafsirkan Alquran dengan pemikiran saja? Tentu tidak. Untuk menafsirkan Alquran kita tentu perlu melalui  pemaduan bahasa yang benar, melibatkan keterampilan menulis, dan mampu mendengar dengan baik.”

Dosen Pendidikan Bahasa Arab UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) ini juga mengingatkan kita agar senantiasa bersyukur kepada Allah karena telah mengijabahi doa-doa kita hingga dapat menimba ilmu di Al Azhar dan mampu menggeluti bahasa Arab dengan luas.

“Bukan diri antum yang memilih bahasa Arab untuk diri kalian sendiri, namun Allah-lah yang memilihkannya kepada kalian semua. Wa rabbuka yakhtaru ma yasya. Mulai sekarang amanat ada di pundak kalian, tugas kalian membawanya kembali ke Indonesia,” tutur Ustaz Aam kepada para peserta.

Menurut Ustaz Cecep Tufiqurrohman—pemateri kedua, ada beberapa orang yang terjun dalam dunia tafsir tetapi belum mumpuni Bahasa Arab. Hal demikianlah yang mejadi penyebab penyimpangan dalam sebuah penafsiran. “Padahal bukankah kita sudah belajar Bahasa Arab sebelum ke Mesir?” 

Untuk menambah semangat peserta, pria kelahiran Garut ini mengajak para peserta untuk berkaca kepada ulama-ulama besar asal Indonesia, seperti Syekh Hasan Al Bashri dari Kediri, Syekh Nawawi Al Bantani dari Banten, dan lain-lain.

 “Kalian tidak akan menjadi ulama besar meskipun kalian mahasiswi Al Azhar, kecuali mutqin dalam Bahasa Arab,” ujar Ustaz Cecep dengan tegas.

Selain menekankan penggunaan bahasa Arab, beliau juga menekankan pentingnya mengenal Bahasa Amiyah. Alasannya, di kampus tak sepenuhnya para dosen berbahasa Arab Fusha. Beliau juga menekankan agar peserta tetap melanjutkan penggunaan bahasa Arab meski sudah lulus.

“Jangan sampai kita melupakan bahasa Arab dalam diri kita. Karena sebenarnya aib kurang bagusnya bahasa Arab  pada wafidin itu bukan dari Al Azhar, bukan dari organisasi yang berjalan, dan bukan pula dari hal-hal yang berhubungan dengan Azhar, melainkan dari dalam diri kita sendiri karena kita malas menggunakannya.”

Sebelum mengakhiri, Penulis buku Menuju Kiblat Ilmu ini memberikan tips meningkatkan bahasa Arab untuk para pelajar di Markaz Syekh Zayid:

  1. Menghafal mufrodat.
  2. Percakapan sehari-hari dengan bahasa Arab.
  3. Berinteraksi dengan guru dan teman.
  4. Diskusi bersama teman membahas tema

Selain keempat hal tersebut, beliau juga berpesan untuk selalu bersiap, memperbaiki niat, dan sabar dalam menuntut ilmu.

Setelah Ustaz Am dan Ustaz Cecep menyampaikan materinya, kini giliran Ustaz Syaraffudin Azhary. Beliau menyampaikan keharusan kita sebagai seorang thalibah azhari untuk paham dan belajar Bahasa Arab dengan baik agar bisa mengajarkannya di negara masing-masing.

Pengajar Kawakib Fusaha Mesir ini juga menceritakan sederet pengalamannya bersama para mahasiswa asing dalam berinteraksi. Mereka mengatakan keraguan mereka dalam memahami agama Islam tanpa melihat teks asli, sehingga muncullah keinginan belajar Bahasa Arab secara lebih mendalam untuk menepis keraguan tersebut.

Menurut beliau, menjaga keautentikan atau kemurnian bahasa itu amat penting. Bahasa Arab juga sebagai wasilah mempelajari ilmu-ilmu lainya seperti Fikih, Akidah, dan ilmu-ilmu syariah lainnya.

“Sebagai mahasiswa yang belajar di tanah Arab tentu harus memilki kemahiran dalam bahasa Arab,” kata Ustaz Syaraffudin menyemangati.

Lihat Juga

IALF; Wujud Perhatian Wihdah pada Urgensi Bahasa Arab

Setelah menyelenggarakan kegiatan “Holiday with Quran” pada bulan Juli lalu, kini Wihdah hadir dengan menyelenggarakan …