Home / Islamiah / Imam As Syadzili; Sang Sufi dari Negeri Maghrib
alwafd.news

Imam As Syadzili; Sang Sufi dari Negeri Maghrib

Humaitsara merupakan daerah terpencil di gurun Mesir selatan. Jaraknya sekitar 1000 kilometer dari Cairo dan butuh 12 jam perjalanan. Daerahnya dikelilingi padang pasir dan pegunungan batu terjal. Penduduknya sangatlah beradab. Tak heran jika di sana ada bersemayam Syekh Abu al Hasan as Syadzilipendiri tarekat Syadziliah yang juga salah satu tarekat terkemuka di dunia.

Nama lengkap beliau adalah Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar, keturunan Sayidina al Hasan cucu Rasulullah saw. Dilahirkan tahun 593 H di Ghumarah, dekat kota Sabtah, negeri Maghrib yang sekarang bernama Maroko, Afrika Utara. Beliau tumbuh di kampung bernama Bani Zarwil dan menuntut ilmu di sana. Di kota kelahirannya itulah beliau menghafal Al-Qur’an dan mempelajari ilmu syariat.

Asal mula beliau menjalani tarekat berawal ketika pergi ke negara Tunisia. Beliau tinggal di sebuah desa yang bernama Syadzilah. Oleh karena itu, beliau dinisbakan ke desa itu meskipun tidak berasal dari sana. Dalam riwayat lain disebutkan juga bahwa beliau disebut “as Syadzuli” yang berarti orang yang mengasingkan diri untuk berkhidmat mencintai Allah Swt.

Di Tunisia, beliau ingin bertemu dengan para syekh yang ada di negeri itu. Di antara syekh yang bisa memantapkan hatinya ialah Syekh Abu Sa’id al Baji. Keistimewaan beliau adalah sebelum Abu al Hasan berbicara, beliau sudah mengetahui isi hatinya. Abu al Hasan pun yakin bahwa Syekh Abu Sa’id al Baji adalah seorang wali. Kemudian beliau berguru dan menimba ilmu darinya. Mulai dari sanalah Abu al-Hasan menekuni ilmu tarekat.

Di dalam pengembaraannya, beliau berkeinginan untuk lebih meluaskan ilmu demi mendekatkan diri pada Allah Swt. Beliau pun berangkat ke Irak—pusat ilmu masa itu. Di Irak, beliau berguru kepada Syekh Abu al Fath al Wasithi, seorang murid dari Syekh Ahmad ar Rifa’i.

Beliau juga sering kali bertanya tentang wali kutub di Irak, kemudian dijawab oleh salah satu wali “Wahai Abu al-Hasan, kamu mencari wali kutub di Irak, padahal wali kutub itu di negaramu, pulanglah ke negaramu maka kamu akan menemukannya.” Atas pesan sang guru, Abu al-Hasan pun bertandang ke negara asalnya dengan penuh harapan.

Di negaranya, dia berjumpa dengan wali kutub Syekh Abdussalam bin Masyisy yang tinggal di puncak gunung. Sebelum menemuinya, beliau mandi terlebih dahulu seraya berniat dalam hati bahwa beliau adalah seorang yang tak memiliki ilmu sedikit pun, dengan harapan agar Syekh Abdussalam berkenan mengajarkan ilmu tasawuf kepadanya.

Ketika Abu al Hasan mendatanginya, sang guru berkata “Selamat datang wahai Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar.” Kemudian Syekh Abdussalam menyebutkan silsilah nasab Abu al Hasan sampai Rasulullah saw. seraya berkata “Wahai Ali, engkau datang kepadaku dengan hati yang butuh terhadap ilmu dan amal, maka engkau berhak untuk mendapatkan dariku ilmu dunia akhirat.” Beliau pun tinggal bersamanya selama beberapa hari, sampai hatinya mendapatkan pancaran sinar Ilahi.

Pertemuan antara Syekh Abdussalam dan Abu al Hasan benar-benar merupakan pertemuan antara mursyid dan murid. Banyak sekali ilmu tarekat yang diperoleh Abu al Hasan dari gurunya ini. Di antara wasiat sang guru adalah “Tajamkan mata keimanan, maka kamu akan melihat Allah Swt. dalam segala sesuatu.” Karena keinginannya yang kuat untuk mendalami ilmu tasawuf, beliau pun mengambil baiat dari Syekh Abdussalam.

Penyebaran Tarekat Syadziliyah

Setelah bertemu dengan wali kutub yang dicarinya, tugas Abu al Hasan selanjutnya adalah menyebarkan tarekat Syadziliyah yang dianutnya. Hal tersebut dilakukan dengan cara bergaul bersama masyarakat, berbaur dengan kehidupan mereka, serta membimbing dan menyebarkan ajaran-ajaran Islam.

Beliau pun menuju negara tempat beliau menjalani tarekat pertama kali, yakni Tunisia. Di Tunisia, beliau menetap di sebuah rumah dekat masjid al Bilath. Beliau banyak berkumpul dengan ulama besar Tunisia seperti Abu Hasan Ali bin Makhluf as Shaqli, Abu Abdillah as Shabuni, dan Abu Muhammad Abdul Aziz Az Zaituni. Dalam waktu yang singkat, berbondong-bondonglah para ulama untuk belajar kepada Abu al Hasan. Nama Abu al Hasan semerbak harum di mana-mana.

Ketenarannya sampai terdengar di telinga Kadi Abu al Qasim bin Barra’ yang saat itu menjabat sebagai pakar ahli fikih di Tunisia. Hingga kabar ketenaran beliau menimbulkan kedengkian di hati sang kadi, dia pun kemudian berusaha memadamkan popularitasnya.

Kemudian sang kadi mengadu kepada Sultan Abu Zakaria “Sesungguhnya di daerah kita ada lelaki dari desa Syadzilah yang mengaku keturunan Rasulullah saw., dia diikuti oleh banyak orang, dan dia akan mengacaukan negaramu.” Sultan pun langsung mengadakan pertemuan dan menghadirkan Abu al Hasan, Kadi Abu al Qasim, serta para pakar fikih.

Pertemuan tersebut untuk menguji seberapa kemampuan Abu al Hasan. Perdebatan pun dimulai. Banyak pertanyaan yang dilontarkan demi menjatuhkan dan mempermalukan Abu al Hasan. Namun, seluruh pertanyaan dijawab dan dijelaskan dengan mudah oleh Abu al Hasan. Sang kadi pun tertunduk malu, bukan hanya karena ketepatan jawaban dari Abu al Hasan, tetapi juga karena pengakuan Sultan bahwa beliau termasuk pemuka para wali. 

Kedengkian sang kadi kepada Abu al Hasan semakin membara, hingga akhirnya dia berusaha mengancam Sultan dan berkata “Jika kamu membiarkannya, maka penduduk Tunisia akan menurunkanmu dari singgasana.” Singkat cerita, Sultan pun memerintahkan para pakar fikih untuk keluar dari ruangan dan menahan Abu al Hasan di istananya untuk sementara waktu.

Karamah Abu al Hasan as Syadzili

Suatu ketika, terdengar kabar bahwa budak perempuan Sultan Abu Zakaria yang paling dibanggakan meninggal akibat terserang sebuah penyakit. Ketika sang sultan beserta para pelayannya sibuk dengan urusan pemakamannya, tak disangka kebakaran terjadi di rumah sang Sultan. Bara api pun berhasil melalap harta kekayaan dan barang berharga di rumah sang Sultan.

Sembari merenung dan mengingat kesalahan di masa lalunya, sang Sultan menyadari bahwa kejadian tersebut terjadi akibat sikap buruknya terhadap Abu al Hasan. Kemudian sang sultan meminta saudaranya untuk meminta maaf kepada Abu al Hasan atas perlakuan Sultan kepadanya.

Cerita yang serupa juga dialami Abu al Qasim bin Barra’. Pada akhir hayatnya dia mengalami banyak cobaan seperti ilmunya sia-sia dan tidak bermanfaat, anak-anaknya durhaka, dan merasakan kezaliman. Hal tersebut terjadi karena dia telah memusuhi Abu al Hasan yang merupakan kekasih Allah Swt.

Dakwah Abu al Hasan as Syadzili di Mesir

Beberapa hari setelah peristiwa yang terjadi di Tunisia, Abu al Hasan memilih untuk pindah ke Mesir. Adapun sebab beliau pindah ke Mesir adalah beliau bermimpi bertemu dengan Rasulullah saw., yang berkata kepadanya “Wahai Ali, pergilah ke Mesir untuk mendidik 40 orang yang benar-benar takut kepadaku.”

Setelah sampai di Alexandria, beliau menikah dan dikaruniai lima anak; tiga laki-laki dan dua perempuan. Hingga akhirnya pemerintah Alexandria juga mewakafkan untuknya dan keturunannya salah satu bangunan Alexandria. Selama di Mesir, beliau banyak didatangi oleh ulama-ulama. Di antara ulama yang hadir dalam pengajian beliau adalah Izzuddin bin Abdussalam, Ibnu Daqiq al-’Aid, Al Hafidz al-Mundziri, dan lain-lain.

Kepribadian Abu al Hasan as Syadzili

Abu al-Hasan al-Syadzili adalah seorang yang tampan, berpenampilan indah, berkulit sawo matang, berbadan kurus, berperawakan tinggi, pipinya tipis, jari-jari kedua tangannya panjang, bahasanya enak, tidak sulit dalam tarekat.

Beliau berkata “Tarekat itu bukan melulu dengan ibadah, bukan juga dengan makan yang keras dan lain sebagainya, tetapi dengan kesabaran melaksanakan perintah dan keyakinan dalam hidayah.” Beliau selalu menasihatkan untuk bersikap sederhana. Karena baginya, kesufian adalah gerak batin seorang hamba. Harta dan kekayaan boleh ada di tangan, tetapi jangan sampai melekat dan ada di dalam hati.

Akhir Hayat Abu al Hasan as Syadzili

Abu al Hasan selalu melaksanakan haji ke tanah suci Makkah setiap tahunnya. Ketika tahun 656 H, dia bertekad untuk melaksanakan haji melewati lembah ‘Aidzab. Sebelum berangkat, dia berpesan kepada muridnya, yakni Abu Abbas al-Mursi untuk membawa cangkul, kain kafan, dan berbagai keperluan untuk mengurus jenazah. Sang murid bertanya: “Untuk apakah cangkul dan kain kafan dibawa?” Abu al-Hasan menjawab: “Fi Humaitsara saufa tara” yang berarti “Di Humaitsara, kau akan tahu.”

Setelah sampai di Humaitsara, Abu al Hasan mandi dan melaksanakan salat dua rakaat, kemudian dia menghembuskan nafas terakhirnya. Inilah rupanya makna yang dimaksud oleh Abu al Hasan. Kemudian sang murid memandikan, mengafankan, dan menyalati sang guru. Setelah itu sang guru dimakamkan pada tempatnya yang dikenal dengan Humaitsara.

Daerah itu merupakan rute perjalanan haji dari Mesir dan Maroko selama lebih dari 200 tahun, dan tidak digunakan lagi pada tahun 766 H. Syekh Abu al-Hasan al-Syadzili merupakan sosok yang sangat kuat memegang Sunah Rasulullah saw., mengamalkan yang wajib dan sunah. Beliau memiliki banyak karamah yang Allah berikan, sehingga beliau mendapati kedudukan yang tinggi di sisi Allah Swt.  Referensi:

  1. Kitab al Mafâkhir al ‘Aliyyah fi al Maâtsir as Syâdziliyyah karya Syekh Ahmad bin Muhammad al Mahalli as Syafi’i.
  2. Kitab Masâjid Mishr wa Auliyâuha as Shôlihûn karya Dr. Su’ad Mahir Muhammad.
  3. Kitab Lathâif al Minan karya Syekh Ibnu ‘Athaillah as Sakandari.

Check Also

Fikih Kehidupan: Berhenti di Bulan Ramadan

Ketika manusia sedang dalam perjalanan, dan merasa tersesat salah jalan, yang harus dia lakukan adalah …