Home / Islamiah / Merayakan Maulid Nabi sebagai Wujud Syukur

Merayakan Maulid Nabi sebagai Wujud Syukur

Memperingati hari lahir baginda Nabi Muhammad saw. merukapan agenda rutin tiap tahun yang digelar mayoritas umat Muslim di seluruh penjuru dunia. Pada tahun ini, 12 Rabiul Awwal akan jatuh pada Kamis, 29 Oktober. Oleh sebab maulid Nabi adalah momen penting dalam kehidupan umat Islam, maulid sering kali dirayakan dengan meriah.

Peringatan ini sering kali dirayakan dengan cara mengumpulkan kaum Muslim setempat di malam 12 Rabiul Awwal untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an, melantunkan dzikir-dzikir, serta mendendangkan selawat dan pujian kepada Nabi saw. Usai dari kegiatan-kegiatan tersebut, biasanya perayaan ditutup dengan menyantap berbagai macam hidangan yang sudah disiapkan dengan gotong royong.

Peringatan maulid Nabi sebagaimana tergambar di atas memang tidak pernah terjadi di masa Rasulullah saw. dan para sahabat. Dalam catatan sejarah, ada berbagai macam alternatif yang mengatakan siapa pelopor perayaan maulid Nabi. Ada yang mengatakan maulid Nabi dipelopori oleh Al-Mudzaffar Abu Said—seorang raja dari Baghdad (620 H), Salahuddin Al-Ayyubi (579 H), ada pula yang mengatakan Khalifah Muiz Liddinillah dari Dinasti Fatimiyah (341 H). Karena itulah ada sebagian kaum Muslim yang tidak mau merayakan maulid Nabi, bahkan menyebutnya sebagai perbuatan bid’ah terlarang.

Menanggapi hal ini, Darul Ifta Mesir menyebutkan bahwa perayaan semacam ini merupakan bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad saw., dan penghormatan kepada nabi adalah hal yang diperintahkan oleh syariat itu sendiri. Dengan demikian, merayakan kelahiran Nabi bukan termasuk bid’ah yang dilarang.

Para ulama salaf dalam bukunya juga menyebutkan bahwa merayakan maulid Nabi merupakan kegiatan mustahab. Mereka ialah Ibn Al-Hajj, Ibn Al-Jauziy, Ibn Katsir, Ibn Dahiyah Al-Andalusi, Ibn Hajar Al-Ashqolani, dan Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuti yang telah mempraktekkan dan memerintahkan untuk menghidupkan malam maulid Nabi dengan berbagai macam ritual ibadah. Yang dimaksud di sini adalah dengan mengumpulkan orang-orang untuk mengenang perjuangan Nabi, mendendangkan selawat dan pujian kepadanya saw., berbagi hidangan dengan fakir miskin sebagai penanda kebahagiaan umat Muhammad saw. atas kelahiran Nabi dan Rasul mereka.

Sayyid Muhammad bin Alawi mengatakan bahwa sesungguhnya orang pertama yang merayakan maulid adalah Baginda Rasulullah saw. sendiri. Hal ini dijelaskan dalam Sahih Muslim ketika beliau ditanya tentang alasan beliau berpuasa di hari Senin, beliau saw. menjawab:

“Pada hari itulah aku dilahirkan.”

Pernyataan ini adalah nas yang paling jelas, yang bisa menjadi isyarat untuk merayakan maulid Nabi saw. Karena dengan berpuasanya Nabi di hari senin merupakan wujud syukur Nabi atas semua pemberian Allah Swt. Dengan begitu, tradisi memasak berbagai macam hidangan dan menyantapnya bersama fakir miskin saat maulid pada hakikatnya termasuk dalam perbuatan yang tidak dilarang.

Tidak ada dalil yang melarang ataupun membolehkannya. Namun, dengan adanya maksud yang baik menyenangkan fakir miskin dan menjalin kekerabatan antar umat Muslim, hal ini menjadi perbuatan yang dibolehkan syariat. Terlebih lagi jika kegiatan-kegiatan semacam ini terangkum sebagai wujud cinta kita kepada Nabi Muhammad saw., tentu hal ini tidak hanya boleh dilakukan, tetapi dianjurkan dan dianggap sunah Rasululllah saw. Sedangkan perkataan yang melarang perayaan maulid Nabi adalah perkataan yang berlebihan.

 

 

Sumber:

Jalaluddin al-Suyuthi, Husnu al-Maqsad fî ‘Amal al- Maulid, Faolabook.com (2004).

Fatwa Dar al-Ifta Mesir Mengenai Perayaan Maulid Nabi, https://bit.ly/37PKZeQ

Muhammad bin Alawi al-Maliki, al-I’lâm bi Fatâwâ Aimmati al-Islâm Haula Maulidihi al-Shalâtu wa al-Salâm, Dar al-Salam, Kairo (2014).

https://tirto.id/sejarah-maulid-nabi-muhammad-saw-dan-tradisi-perayaannya-di-dunia-f6pM

Check Also

Fikih Kehidupan: Berhenti di Bulan Ramadan

Ketika manusia sedang dalam perjalanan, dan merasa tersesat salah jalan, yang harus dia lakukan adalah …