Home / Islamiah / Merenungkan Keutamaan dan Hakekat Puasa Ramadan
Kredit Foto : Ben Ostrower

Merenungkan Keutamaan dan Hakekat Puasa Ramadan

Ketika datangnya bulan suci Ramadan kita sering mengatakan ‘’Marhaban ya Ramadan, ini adalah bulan suci umat islam, dan bulan penuh keberkahan.’’ Namun, sudahkah kita mendalami makna dari yang kita ucapkan itu? Jangan-jangan kita mengucapkan itu sekadar mengikuti tren atau semacam pemanis kata-kata di media sosial? Mari kita renungkan dan teliti.

Bagi masyarakat awam, ibadah puasa merupakan siklus ibadah tahunan yang dilaksanakan setahun sekali setiap datangnya bulan Ramadan. Ibadah tersebut sudah menjadi tradisi tahunan sehingga ketika ada orang hendak tidak puasa, dia akan malu karena terkesan saru (tak sopan). Namun, jarang kita sadari betapa agungnya bulan suci ini dan mulianya ibadah puasa yang kita jalani. Padahal, ketika kita menyadari pentingnya dan mulianya ibadah yang sedang dikerjakan, kita akan lebih bersemangat apalagi dalam urusan ibadah.

Banyak sekali keutamaan dan keagungan bulan Ramadan yang diceritakan di dalam Alquran dan hadis. Dalam Alquran, bulan Ramadan merupakan bulan yang mulia karena saat itulah kitab suci sekaligus pedoman hidup umat Islam ini diturunkan. Lalu, di bulan tersebut juga terdapat satu malam yang lebih mulia dan lebih baik dari seribu bulan.

Artinya ketika dalam seumur hidup kita mendapatkan lailatul qadar satu kali saja, itu setara dengan seumur hidup kita dihitung beribadah terus-menerus kepada Allah Swt.. Demikian lantaran seribu bulan itu setara delapan puluh tiga tahun empat bulan, dan itu adalah rata-rata mayoritas jangka hidup manusia pada umumnya. Apalagi kalau kita mendapatkan lailatul qadar setiap tahunnya, bisa dihitung dan dibayangkan berapa banyak pahala yang kita dapatkan.

Lalu dalam hadis juga banyak diterangkan keutamaan Ramadan, misalnya hadis sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Abu Huraira ra. bahwa Rasulullah saw.. bersabda ‘’Ketika datang bulan Ramadan, maka terbukalah pintu surga, tertutupnya pintu neraka, dan dibelenggunya setan’’. Artinya, pintu surga terbuka adalah isyarat bahwa setiap amalan baik yang kita lakukan akan semakin memudahkan jalan kita menuju surga dan mendapat rida Allah SWT. Lalu tertutupnya pintu neraka artinya tertutupnya setiap jalan, yaitu perbuatan maksiat yang menjerumuskan kita ke neraka. Di belenggunya setan merupakan isyarat lemahnya tipu daya setan dalam mengganggu manusia ketika menjalankan ibadah puasa.

Lalu hadis dari Abu Huraira ra., dikatakan bahwasanya Rasulullah saw. bersabda ‘’Allah Swt. berfirman dalam hadis Qudsi: ‘Setiap amal perbuatan manusia akan kembali pahala yang telah ditentukan kepadanya, kecuali puasa, karena puasa itu untukku (Allah Swt.) dan aku yang akan membalasnya’’. Artinya ibadah puasa ini berbeda dengan ibadah-ibadah yang lain. Karena ibadah puasa ini pahalanya tidak terbatas, langsung dari Allah Swt. sendiri yang memberikannya. Kita tahu bahwa kadar pemberian itu tergantung kadar pemberinya, lalu bahagaimana jika yang memberi adalah Dzat yang Maha Besar dan Kaya?

Setelah kita mengetahui sedikit tentang keutamaan dan kemuliaan bulan Ramadan, mari kita teliti dan renungkan lebih jauh hakikat dari ibadah yang jalani ini.

Puasa dalam bahasa Arab yaitu as-saum yang secara bahasa berarti alimsak atau menahan. Sedangkan pengertian puasa secara syariat yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang bisa membatalkan puasa mulai dari terbitnya matari sampai terbenamnya matahari dengan syarat-syarat tertentu.

Ada beragam level orang dalam berpuasa. Level orang awam, yaitu menjalankan ibadah puasa dengan menahan diri dari haus dan dahaga. Level ini adalah level yang paling banyak kita jumpai. Mereka berpuasa tapi masih menggunjing orang, membicarakan aib orang, dan masih berkata kotor.

Lalu level tertinggi yaitu ketika seseorang mampu melaksanakan ibadah puasa dengan menahan diri dari haus dan dahaga, ditambah dengan menjaga hati dari melakukan segala perkara yang syubhat dan dilarang agama. Misalnya meninggalkan gibah, ujaran fitnah dan kebencian, permusuhan, dan lain-lain.

Hal ini senada dengan hadis yang diriwayatkan Imam Bukhori ra. dari Abu Huraira ra., bahwasanya Nabi saw. bersabda ‘’Barang siapa yang berpuasa tidak meninggalkan ujaran kebencian dan perilakunya, maka tidak ada gunanya dia meninggalkan makan dan minumnya.” Kemudian hadis nabi ‘’Banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan manfaat darinya kecuali hanya lapar dan dahaga’’.

Jadi hakekat puasa adalah menahan. Menahan diri dari apa saja, tidak terbatas menahan makan dan minum, tapi dalam arti yang luas. Misalnya, jangan sampai hanya berbeda pilihan pandangan saja menjadikan kita dengan mudahnya mencaci maki saudara sebangsa. Maka dengan datangnya Ramadan ini mari kita minimalisir perbuatan tersebut, dan lebih menguatkan tali persaudaraan kepada saudara-saudara setanah air, baik ukhwah islamiah maupun ukhwah wathaniyah.

Jika sebelum Ramadan kita mudah menggunjing orang, mudah membicarakan kejelekan dan mengumbar aib orang lain, apalagi di media sosial, maka di bulan suci ini mari kita tahan diri kita untuk mengurangi perbuatan jelek tersebut. Dan masih banyak contoh-contoh lain.

Pada dasarnya manusia dibekali dengan akal dan hati nurani yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Namun sering kali akal kita kalah oleh hawa nafsu. Akan tetapi sejelek apapun perangai seseorang, dia tidak akan bisa mengelak dari hati nuraninya. Artinya saat kita melakukan perbuatan yang salah, kita bakal menyadari kalau itu salah. Hanya saja, maukan kita meninggalkan perilaku tersebut.

Bulan Ramadan ini memang dijadikan Allah Swt. sebagai ajang kita untuk mengavaluasi segala perilaku kita, sebagai kesempatan untuk berbenah diri. Kalau tidak kita mulai dari sekarang mau kapan lagi? Sehingga tujuan Allah Swt. dalam mensyariatkan puasa Ramadan ini bisa terealisasi dalam diri kita, dan terciptanya pribadi yang bertakwa.

Bertakwa disini artinya kita menyadari bahwa segala perbuatan kita selalu dimonitori oleh Allah Swt. Ada Allah Swt. yang mengawasi kita selama dua puluh empat jam. Ketika kita memiliki perasaan seperti itu, kita akan menjalankan segala perintahnya dan meninggalkan segala larangannya. Lalu kita berpisah dengan Ramadan dengan perubahan baik dari diri kita. Dan ketika setiap masing-masing dari kita itu baik, maka seluruh komponen masyarakat akan menjadi baik. Sehingga pada akhirnya terwujud Islam yang rahmatan lil’alamin.

Lihat Juga

Mendengarkan Musik, Haram atau Tidak?

Terlepas dari hukum dan suka atau tidaknya seseorang mendengarkan musik, pada kenyataannya ia sudah menjadi …