Home / Islamiah / Ramadan di Tengah Pandemi, Apa yang Sebenarnya Kita Rindukan?

Ramadan di Tengah Pandemi, Apa yang Sebenarnya Kita Rindukan?

Dua pekan terakhir, sering tersiar di media sosial doa-doa agar dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadan. Kekhawatiran akan pandemi Korona yang masih berlangsung adalah salah satu alasan di balik fenomena ini. Umat muslim mulai mempertanyakan bagaimana Ramadan akan berjalan? Akankah tetap memilliki euforia seperti sebelum-sebelumnya? Atau benar-benar hilang tidak berbekas.

Setiap tahunnya kita menunggu-nunggu momen Ramadan yang selalu memilki suasana berbeda dengan bulan lainnya. Buka bersama dengan teman sejawat, ngabuburit menunggu waktu berbuka, sampai Sahur on the Road. Namun di tengah pandemi kali ini, list di atas terancam dicoret dari kegiatan yang wajib dilaksanakan.

Sedih? Tentu saja. Tapi ada baiknya kita menelisik kembali, apakah benar hal-hal tersebut yang harus dirindukan atau sebenarnya ada hal-hal lain yang perlu lebih dihiraukan? Kalau memang list di ataslah yang kita khawatirkan hilang dari Ramadan kali ini, maka artinya kita melupakan beberapa hal esensial mengenai Ramadan itu sendiri, yang sebenarnya lebih identik dengan hal-hal holistik istimewa di dalamnya.

Syekh Al Azhar, Mutawalli Asy-Sya’rawy pernah menjelaskan dalam salah satu khutbahnya, mengapa Ramadan dijadikan Allah Swt. sebagai bulan yang begitu holistik dan seharusnya tidak berhenti di euforia duniawi saja. Beliau memulai penjelasannya dengan Tafsir surah Ar-Rahman ayat 2-4. Sebagaimana seseorang yang menciptakan benda, ia pasti meletakkan nilai berserta tujuan dari penciptaan benda tersebut, tak lupa juga ada hal-hal yang menunjang untuk menuju tujuan tersebut. Begitupula Allah Swt. Ketika menciptakan manusia, Ia menyiapkan terlebih dahulu tujuan dan pedomannya sebagaimana pada ayat kedua surah Ar-Rahman yang berbunyi “allamal qur’an” terletak sebelum ayat ketiga, “khalaqal insan.”

Teori yang sama juga berlaku pada bulan suci Ramadan. Ketika Allah menurunkan Alquran yang begitu agung pada bulan ini, otomatis menjelaskan bahwa nilai yang Ramadan bawa tidak seremeh euforia duniawi yang kita rindukan. Beliau, Syekh Sya’rawi menjelaskan juga ketika kita mencintai Ramadan, maka pergunakanlah ia dengan apa yang Allah perintahkan di dalamnya. Lalu bagaimana kiat menghidupkan Ramadan sesuai yang Allah mau? Kita bisa cek langsung di ‘buku panduan’ yang Allah turunkan pada bulan mulia tersebut.

Tentu saja yang paling identik dari Ramadan adalah kewajiban berpuasanya. Sebagaimana yang kita ketahui, kewajiban berpuasa termaktub bersamaan dalam ayat turunnya Alquran surah Al Baqarah ayat 184, yang artinya:

“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu….”

Berpuasa di bulan Ramadan menurut Syekh Sya’rawi adalah cara Allah untuk menyiapkan hamba-hambanya ketika menemui kesulitan atau cobaan pada bulan-bulan lainnya. Mulai dari kesulitan yang berhubungan dengan keberlangsungan hidup manusia seperti menahan lapar dan berbuka dengan yang sederhana, sampai yang bersifat cobaan insidental: menahan nafsu syahwat kepada wanita.

Sederhananya, orang yang sudah terbiasa berpuasa sebulan penuh ketika Ramadan, akan lebih mudah menghadapi rasa lapar dibanding orang yang sama sekali belum pernah berpuasa. Pun menjaga kemaluan pada siang hari di bulan Ramadan adalah salah satu sarana berlatih agar memiliki kekuatan lebih dalam menahan syahwat di bulan-bulan setelahnya.

Selain itu, ada beberapa ibadah sunah lain yang bisa menambah hidupnya suasana Ramadan, seperti Tarawih, tilawah Alquran, juga Qiyamulail. Jadi, yang perlu digarisbawahi bahwa semua hal yang dapat menghidupkan suasana Ramadan tidak ada kaitannya dengan kondisi yang disebabkan oleh pandemi. Karena semuanya dapat dilakukan dari rumah masing-masing.

Maka dari itu, kita seharusnya tidak lagi khawatir kehilangan euforia Ramadan tersebab oleh pandemi Korona. Karena sesungguhnya kita tidak benar-benar kehilangannya, selama kita dapat memahami apa yang Allah inginkan pada bulan mulia ini, dan menjalankannya semaksimal kemampuan kita.

Lihat Juga

Fikih Kehidupan: Adakah Sebenarnya Penyakit yang Menular?

Mungkin, sebagian orang berfikir sederhana; “Penyakit, ya, bisa menular.” Asumsi itu seperti hal yang sangat …