Home / Resensi / buku / Martin Aleida dan Kisah-kisah yang Terlupakan
Kredit Foto : deskgram.net/thealbahri

Martin Aleida dan Kisah-kisah yang Terlupakan

Sekitar empat tahun yang lalu, aku bertemu dengan karya Martin Aleida. Karyanya yang pertama kali aku baca adalah Surat Nurlan Daulay Untuk Junjungan Jiwanya yang tersaji di rubrik cerita pendek sebuah surat kabar. Aku berhasil merampungkan cerita itu dalam sekali duduk. Tapi, aku belum berhasil memahaminya. Cerpen itu tidak terlalu panjang namun gaya penulisannya yang seluruhnya naratif terasa asing bagiku. Aku belum menemukan cerpen seperti itu sebelumnya.

Di SMA, ketika itu, aku diajarkan bahwa deskripsi dan dialog dalam suatu cerpen harus berimbang, bahkan dianjurkan untuk memperbanyak dialog. Aku mulai putus asa setelah berulang-ulang membacanya namun masih buntu. Dari cerpen itu, yang saat itu tertangkap di kepala hanyalah penggambaran tokoh yang sedang berdiri di taman gedung sebuah Bank dan melihat rekaman masa lalu yang berputar di ingatannya.

Hingga setahun setelahnya aku membaca lagi karyanya di surat kabar yang sama, berjudul Tanah Air. Gaya penceritaan yang digunakan dalam cerpen ini hampir mirip dengan cerpen sebelumnya. Martin menggunakan sudut pandang pertama untuk menjalankan cerita. Tokoh Aku bercerita mengenai hubungannya dengan suaminya yang diasingkan ke luar negeri. Mereka adalah korban dari operasi pelenyapan PKI.

Kemudian beberapa bulan yang lalu, aku menemukan kumpulan cerpen Martin Aleida di sebuah perpustakaan. Kumcer itu berjudul Mati Baik-baik, Kawan. Tak terlalu tebal, kumcer ini hanya berisikan sembilan buah cerita pendek dan aku berhasil merampungkannya dalam waktu satu malam penuh. Kisah pertama berjudul Mangku Mencuri Doa di Daratan Jauh yang kemudian dialog bagian akhir ceritanya dijadikan sebagai judul umum kumcer berhalaman 144 ini.

Dalam cerpen pertama jelas keinginan tokoh Mangku yang tidak tahan dan ingin lari sejauh-jauhnya dari kampung yang ia cintai tapi tak ingin mati di tanahnya. Mangku sebagai perwakilan dari mereka yang tidak tahan dengan tekanan dari masyarakat dan aparat pemerintah yang memandang dia sebagai antek-antek komunis. Cerpen ini memiliki magisnya sendiri bagi saya—dan mungkin berlaku untuk pembaca yang lain. Bahkan di paragraf terakhir—di mana Mangku memperlakukan kera-nya yang mati dengan sangat terhormat—saya sempat bergidik saat membacanya, “Persis sebagaimana kau dikuburkan ini, begitulah kematian yang kuinginkan. Mati baik-baik, Kawan. Diiringi doa…

Di bagian cerita kedua yang berjudul Tanpa Pelayat dan Mawar Bunga, Marti Aleida semakin meyakinkanku bahwa kumcer ini disatukan oleh satu ide, sebuah kesaksian. Penulis ingin menyuratkan narasi-narasi kecil yang terlupakan dari sekitar pergolakan PKI 1965. Dia bercerita tentang orang-orang yang menderita akibat peristiwa itu, baik itu dari korban, orang di sekitarnya ataupun pelaku.

Dalam cerita Tanpa Pelayat dan Mawar Bunga Ia  mengisahkan tentang pilunya orang di sekitar pelaku. Ia mengisahkan tentang seorang tentara yang dengan bangga telah membunuh banyak simpatisan PKI dan suatu hari meninggal dunia. Tidak ada yang mau menguburkan jenazahnya hingga istrinya menggali sendiri kuburan untuk si suami.

Gaya penceritaan dari sisi pelaku ini menjadi anomali di antara keseluruhan cerpen di buku ini. Pasalnya cerita yang lain diambil dari sudut pandang korban tertuduh PKI yang akhirnya tewas sia-sia atau kehilangan orang terdekat. Misalnya seperti cerita berjudul Malam Kelabu atau Salawat untuk Pendakwah Kami.

Meskipun dalam sudut pandang yang berbeda, cerita yang berjalan tetap mengisahkan sunyi melalui duka seorang istri saja. Tak ada pelayat yang datang, apalagi bunga duka. Pekuburan sepi, bahkan para penggali kuburan memilih menepi dan tak menghiraukan peti mati yang teronggok di atas tanah-tanah hasil rampasan dari mereka. Dan di ujung cerita Martin bertutur dengan getir: Tak ada suasana duka di pekuburan itu. Kecuali pada sebentuk hati seorang istri yang harus menggali sendiri liang lahat untuk jenazah suaminya.

Sebuah cerita melalui sudut pandang pelaku ini lebih dulu saya temui dalam cerpen Keroncong Pembunuhan dalam antologi Pembunuhan Misterius karya Seno Gumira Ajidarma. Meski begitu terdapat berbeda dari keduanya, ketika Martin melalui istri dari seorang eksekutor sedangkan Seno lewat pengambil nyawa bayaran. Hal ini pula yang saya rasa membuat emosi dari tokoh Seno lebih dekat dan nyata ketika nurani bergejolak: apakah menuruti profesional kerja atau menanggapi bisikan nuraninya.

Martin sepertinya mengerti itu dan dengan jeli ia mencoba mencari sisi yang lain. Ia memilih tokoh perempuan, yaitu si istri tentara. Emosi atau perasaan pilu yang ditangkap pembaca akan lebih kuat ketika menemukan seorang istri menggali kuburan untuk suaminya sendiri dalam suasana yang begitu sunyi, ngeri, dan getir.

Malam Kelabu melanjutkan getir itu melalui seorang lelaki bernama Kamaluddin Armada yang membunuh dirinya sendiri. Bukan karena takut akan mati sia-sia atau tidak adanya orang yang akan berduka, tapi ada sesuatu yang lain. Harapan manisnya lenyap ketika mengetahui calon istrinya dan seluruh keluarganya telah dibakar hidup-hidup. Alasannya sepele, satu anggota dari keluarga diduga simpatisan komunis, karenanya seluruh keluarga bisa jadi komunis yang harus dilenyapkan.

Mengawini anak seorang komunis bukan berarti kita komunis. Aku kawin dengan anaknya, bukan dengan ayahnya.’

Karena di rumah mereka bersembunyi seorang komunis, tak peduli Ibu Mulyo yang buta huruf. Seperti di daerah lain, keluarga komunis ikut hilang, tak peduli apakah mereka buta politik atau tidak.’

 

Melalui percakapan panjang dua tokoh, Armada dan seorang carik desa, yang baru sebentar berkenalan, Penulis menggambarkan bagaimana rasa kehilangan dan penyesalan atas sesuatu yang bahkan mereka sendiri tidak tahu apa-apa. Dan seakan mengajak pembaca mempertanyakan lagi, apa salahnya menjadi komunis? Apa salah keluarga yang tak tahu apa-apa, lalu karena satu orang di keluarganya ‘dituduh komunis’, lantas mereka ikut dihilangkan? 

Cerita yang membawa pada pertanyaan seperti itu disampaikan oleh penulis lain, seperti dalam Gadis Kretek karya Ratih Kumala. Dalam novelnya itu, Ratih menuturkan narasi kecil tentang operasi 65 yang ternyata justru menjadi latar belakang semua konflik yang terjadi berikutnya. Jeng Yah dan Soeraja membatalkan rencana pernikahan karena Soeraja, calon suaminya yang membuat kretek Palu Arit yang didanai oleh PKI menjadi buron tentara. Jeng Yah dan keluarganya pun ditangkap lantaran pernah menampung Soeraja. Bahkan produk kretek Kemerdekaan yang dimiliki keluarga Jeng Yah dan telah ada tidak lama setelah priklamasi diberhentikan karena bungkusnya yang berwarna merah. Kemudian narasi kecil itu mempengaruhi kehidupan banyak orang.

Pertanyaan seperti itu pun muncul ketika aku menyelesaikan cerpen Martin yang lain, semisal dalam Salawat untuk Pendakwah Kami. Kisah itu tidak secara terang menuturkan pilu karena karakter Haji Johansyah yang ramah dan humoris dalam perjalanan ceritanya. Namun, bagian akhir cerita justru memberikan kesan ironi yang menyakitkan saat Haji Johansyah mati secara mendadak. Ia bukan simpatisan, hanya seorang penjual kupiah yang secara kebetulan dituduh menyumbangkan kupiah untuk hari ulang tahun Partai Komunis Indonesia.

Lagi-lagi Martin menuliskan narasi kecil tentang operasi 65 yang kemudian mengubah hidup orang banyak. Serupa hal itu, Eka Kurniawan juga menuliskannya dalam novelnya Seperti Dendam Rindu Harus dibayar Tuntas. Peristiwa perempuan gila yang diperkosa oleh dua aparat adalah awal mula ceritanya. Kemudian jika dirunut lagi pembaca akan menemukan bahwa semua itu dampak dari operasi 65.

Sebagai penutup, Martin Aleida mengakhiri dengan kisahnya sendiri. Dalam cerita berjudul Ratusan Mata Di mana-mana, ia menarasikan bagaimana dirinya menggeluti pekerjaannya dengan embel-embel mantan tapol. Identitas yang cukup menganggu perjalanan hidupnya. Sekeping perjalanan Martin itu dibalut secara tebal dengan lika-liku hidupnya, seperti pekerjaannya sebagai wartawan dari majalah Tempo, konflik dengan orang-orang di dalamnya, hingga keputusannya untuk berhenti dari majalah itu. Proses tarik ulur yang terjadi cukup menarik untuk mengakhiri kisah itu dan menutup deretan cerpen lainnya.

Pertemuan yang ke sekian dengan Matin Aleida ini sangat cukup memberiku keimanan bahwa ia setia sebagai sastrawan kesaksian. Bahwa karya-karyanya terus menyuarakan peristiwa yang dialami dirinya maupun pengalaman orang lain. Bahwa ia berupaya merekonstruksi peristiwa yang berkaitan pasca prahara 1965, yang seringkali terlupakan.