Home / Islamiah / Santri dalam Bingkai Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Santri dalam Bingkai Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Makna kata santri

Istilah “santri” belakangan ini seakan sudah melekat pada salah satu ormas di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama dengan persepsi bahwa kata “santri” dilekatkan untuk mereka yang sedang atau pernah mondok di pesantren . Tetapi, apakah istilah tersebut sudah benar dan layak untuk menjadi afirmasi bahwa kata “santri” hanya disematkan kepada Nahdliyin saja ?

Jika kita menilik pemaknaannya secara harfiah melalui KBBI, makna santri mempunyai dua arti. Pertama, orang yang mendalami agama Islam; dan kedua, orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang yang saleh. Dari dua arti tersebut, bisa dimaknai bahwa istilah “santri” dapat berlaku kepada setiap muslim, dan tidak terbatas untuk Nahdliyin saja. Bahkan bagi mereka yang tidak pernah mengeyam pendidikan di pesantren bisa dikatakan sebagai seorang santri.

Ketua Umum Nahdlatul Ulama, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A periode 2010-2020 memberi pernyataan yang senada dengan pengertian KBBI bahwa kata “santri” bukan terbatas pada alumni pesantren ataupun yang berjiwa santri, tapi santri adalah semua orang yang beragama Islam, berakhlak dan hormat kepada kiai.

 

Santri dan perjuangan melawan penjajah

Santri dalam kiprah sejarah memang seakan menjadi salah satu tonggak perjuangan bangsa. Mereka menanamkan keyakinan kepada masyarakat bahwa rakyat Indonesia mempunyai martabat dan harga diri yang tinggi, dan tidak pantas untuk disebut sebagai kaum Inlander atau bangsa rendahan. Bahkan para santri mempunyai keyakinan bahwasanya siapa saja yang mati membela negaranya dapat menyandang gelar “syuhadaa”. Selain menanamkan pengaruh, para santri juga tidak kosongan. Mereka juga dibekali ilmu, strategi, dan nilai moral oleh para kiai dan ulama sehingga menambah semangat jiwa mereka untuk selalu berkobar membela tanah air.

Perjuangan para santri tidak hanya terbatas pada motivasi personal, tetapi mereka juga membuat berbagai kelompok yang terorganisir. Berbagai organisasi dan laskar-laskar Islam dibentuk, sebut saja Askar Perang Sabil (APS) dan Hizbul Wathan yang berafiliasi dengan Muhammadiyah atau Hizbullah dan Sabilillah yang dibentuk setelah Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Nahdlatul Ulama. Dengan perjuangan yang terorganisir inilah para ulama dan santri lebih mempunyai integritas dan kesatuan untuk mengusir penjajah.

 

Nasionalisme santri

Semangat nasionalisme yang ada didalam jiwa santri merupakan implementasi dari nilai-nilai ajaran Islam yang sudah dicerminkan oleh Rasulullah saw. lebih dari setengah abad yang lalu. Rasulullah telah membingkai kehidupan dan keberagaman kota Madinah dengan kesepakatan yang bernama “Piagam Madinah”. Madinah waktu itu merupakan lingkungan yang sangat plural, mulai dari berbagai kepercayaan bangsa Arab hingga Yahudi berkembang di sana. Banyak sekali konflik horizontal yang melanda antarsuku bangsa, dan kehadiran Rasulullah saw. ke Madinah telah mengubah wajah kota yang dulunya sering berkonflik, menjadi kota plural yang hidup berdampingan dengan damai.

Relevansinya dengan Indonesia, nasionalisme dapat diartikan sebagai sikap menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, UUD 1945 dan hukum konstitusional sebagai acuan kehidupan berbangsa.  Dengan begitu, nasionalisme akan menjadi alat pengikat batin bagi seluruh elemen bangsa yang sudah terfragmentasi ke dalam berbagai suku, budaya, agama, dan bahasa, sehingga mampu menumbuhkan keyakinan bahwa negara harus dilindungi dan dipertahankan.

Begitu juga dengan santri. Sebagai bagian dari bangsa ini, santri dan pesantrennya sudah menjadi subkultur tersendiri dalam sejarahnya dalam konsistensinya menjaga nasionalismenya terhadap bangsa Indonesia. Implementasi paling nyata adalah perannya sebagai basis pendidikan bagi masyarakat, khususnya pedesaan. Dengan edukasi tentang urgensi menjaga bangsa kepada masyarakat, akan mengobarkan rasa cinta tanah air dan melawan segala macam penjajah yang datang.

 

Santri NU dan Muhammadiyah dalam perjuangan Kemerdekaan

Sebagaimana telah disebutkan, bahwa perjuangan melawan penjajah juga dilakukan lewat jalur organisasi. NU dan Muhammadiyah adalah dua organisasi besar yang menampung dan memelopori perjuangan kaum santri dan ulama untuk masuk ke dalam perlawanan terhadap penjajah waktu itu.

Pada tahun 1912, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan sebuah organisasi Islam modernis dan pembaharu yaitu Perserikatan Muhammadiyah. Muhammad Darwis atau nama lain dari K.H. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi ini sebagai manifestasi gagasannya yang ingin menyemai benih pembaharuan di Tanah Air. Selain itu, Muhammadiyah didirikan dengan tujuan untuk menjadi basis Pendidikan modern agama Islam di Indonesia. Dengan melihat latar belakangnya, sudah barang tentu itu adalah salah satu realisasi perlawanan santri kepada para penjajah. Karena dengan semakin banyaknya masyarakat yang cerdas, maka akan semakin banyak juga yang sadar akan pentingnya menjaga dan membela tanah air dari segala bentuk penjajahan baik secara politis, geografis maupun sosial-budaya.

Tak berbeda jauh dari Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama yang didirikan tahun 1926 oleh K.H. M. Hasyim Asy’ari juga mempunyai tujuan awal yang sama. NU didirikan atas dasar kegelisahan K.H. M. Hasyim Asy’ari atas situasi Indonesia saat itu. Maka beliau mendirikan madrasah dan pondok pesantren sebagai pusat kajian Islam. Dengan berdirinya berbagai Lembaga Pendidikan tersebut, diharapkan umat menjadi lebih cerdas dan intelek. Karena beliau menganggap bahwa generasi yang tidak pernah belajar, tidak akan mengubah bangsa menjadi lebih baik.

Dari sini terbuka sebuah wawasan, bahwa perjuangan bukan selalu tentang peperangan. Perjuangan adalah segala bentuk sikap baik dan terhormat untuk melindungi sebuah negaranya dari berbagai penjajah yang akan menghacurkan tatanan hidup negara. Jalur pendidikan salah satunya. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang mengenal negaranya sendiri, maka semakin banyak juga masyarakat yang sadar akan betapa berharganya Negara Indonesia untuk dijaga dan dipertahankan.

 

Refleksi Hari santri untuk generasi Milenial

Setelah mengetahui betapa juhudnya para santri memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, sudah seyogyanya untuk mengambil titik terpenting dari peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi. Sebagai bagian dari bangsa ini, setiap individu harus mempunyai kesadaran mutlak bahwa kemerdekaan Indonesia tak terelepas dari kucur darah para santri dan pahlawan. Dengan kesadaran itu, akan terpola suatu perisai yang akan selalu berusaha membentengi berbagai penjajahan modern yang terjadi di era globalisasi.

Penjajahan tak hanya tentang perang nuklir dan senjata api. Penjajahan adalah segala bentuk penindasan dan penghapusan ciri dan watak asli sebuah bangsa. Penjajahan bisa terfragmentasi dalam lini budaya, sosial, gaya hidup, dan banyak lainnya.

Sejarah santri, kecerdasan dan keyakinannya patut kita refleksikan di Hari Santri ini. Betapa banyak yang mengaku santri tetapi laku hidupnya belum mencerminkan seorang santri. Berapa banyak yang mengaku santri tetapi tak bersungguh sungguh dalam mencari ilmu. Dan berapa banyak santri yang mengaku santri tetapi malas dan tidak mau mengamalkan apa yang sudah diajarkan oleh Islam. Santri yang baik sebagaimana terkandung dalam KBBI, yaitu orang yang mendalami agama Islam dan beribadah dengan sungguh-sungguh. Dengan pengertian ini, seharusnya menjadi reminder bagi kaum santri sekarang agar tahu apa tujuannya menjadi seorang santri dan bagaimana menjadi pribadi santri yang baik.

 

Referensi :

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20171020193024-20-249867/di-balik-sejarah-hari-santri-era-jokowi

https://tirto.id/kiprah-para-santri-muhammadiyah-menegakkan-dan-mengawal-republik-c8uh

https://www.liputan6.com/regional/read/4020756/membingkai-perjuangan-pendiri-muhammadiyah-dan-nu-membawa-islam-yang-toleran

https://www.nu.or.id/post/read/62948/pesantren-kemerdekaan-dan-keindonesiaan

https://www.nu.or.id/post/read/116066/harlah-nu-dan-peran-pesantren-dalam-sejarah

http://www.muhammadiyah.or.id/id/content-178-det-sejarah-singkat.html

Jurnal Islam Nusantara vol.2 No.1 Januari-Juni 2018

About Dzulfikar Kamal

Lahir di antara dua kota metropolitan Jawa Tengah; Solo dan Yogya. Suka ndesen dan baca buku.

Check Also

Fikih Kehidupan: Adakah Sebenarnya Penyakit yang Menular?

Mungkin, sebagian orang berfikir sederhana; “Penyakit, ya, bisa menular.” Asumsi itu seperti hal yang sangat …