Home / SELINGAN / Sepenggal Sore Diperayaan Wafâ’ Al-Nîl
sumber foto: Unsplash Sherif Moharram

Sepenggal Sore Diperayaan Wafâ’ Al-Nîl

Selama musim pandemi, sungai Nil menjadi tempat yang asik bagi mahasiswa untuk  berolahraga pagi. Olahraga apa saja: berlari, bersepeda, atau hanya berjalan kaki biasa. Ada yang sendirian, berkelompok dan tak jarang juga pasangan kekasih. Di depan sungai Nil, dengan segera mereka akan berpotret diri, entah karena keindahan sungai Nil atau demi pencitraan agar terlihat hidup sehat selama pandemi. Tidak tau lah saya. Yang jelas, untuk orang Indonesia sejenis saya, yang mengalami episode-episode hidup di sungai, kali dan parit, berolahraga di pinggir sungai Nil tidak seistimewa memandangi bangunan piramida atau mengunjungi museum mumi.

Selama pandemi saya baru sempat mengunjungi Nil di sore hari. Tidak untuk berolahraga tentunya. Selain jauh dari tempat tinggal saya, sengaja memang saya ingin menunggui matahari terbenam.

Hari itu, setelah turun dari bus kota Tahrir, saya berjalan ke arah selatan melewati kolong jembatan Qashr al-Nîl (arah Garden City), lalu turun lagi menyusuri undakan berkelok ke bawah, hingga tiba di daratan terakhir berupa jalan setapak yang berbatasan langsung dengan air.

Di jalan setapak ini berderet bangku taman dan kursi plastik yang menghadap langsung ke sungai. Jangan tanya seberapa ramai tempat sempit ini. Puluhan keluarga yang berekreasi membawa anak-anak, juga para pedagang pinggiran turut menyumbang kepadatan. Rupanya karena sudah memasuki hari libur sekolah, ditambah longgarnya kesadaran menerapkan protokol kesehatan, mereka tidak khawatir lagi berkerumun ramai tanpa mengenakan masker.

Saya berdiri di pagar besi pendek yang membatasi daratan dengan air. Berusaha meresapi tempat ini dengan seluruh indera, menikmati air perak yang mengalir deras bergulung-gulung. Seorang yang kelihatannya petugas kebersihan datang lalu memarahi saya agar saya tidak dekat-dekat apalagi menempel pada pagar. Mungkin petugas tersebut menganggap saya seperti anak kecil yang tidak paham kalau air yang berjarak sejengkal dari kaki kami sangat dalam dan deras.

Saya yang kesal karena kesenangan sederhana saya diusik, menantangnya dengan memanjat satu ruas pagar yang hanya setinggi pinggang tersebut. Petugas tersebut semakin murka dan memanggil rekannya untuk mengancam saya. Melihatnya marah sedemikian serius membuat saya mengalah turun dan kembali duduk di bangku yang berjarak dari pagar.

Belakangan baru saya ketahui, bahwa pada hari saya mengunjungi sungai terpanjang di dunia tersebut, adalah termasuk hari yang dulunya diprediksi banjir tahunan, yakni yaum wafâ’ al-nîl (perayaan banjir sungai Nil). Di masa lampau, sungai Nil rutin banjir setiap tahun pada musim panas. Saking teraturnya, banjir tersebut bisa diprediksi datang di antara bulan  Juni-Sepember setiap tahun, dan berlangsung selama dua minggu. Arus sungai meluap disebabkan kiriman air dari negeri-negeri yang dilewati Nil di benua Afrika bagian selatan yang memang kebetulan punya curah hujan yang tinggi pada bulan itu, ditambah lelehan gletser dari pegunungan Ethiopia.

Namun banjir tahunan itu tidak lagi terjadi sejak dibangun Bendungan Tinggi Aswan pada tahun 1960. Barangkali memang ada pantangan bagi penduduk Mesir mendekati air di hari-hari itu, saya kurang tahu. Namun, meski sudah tidak lagi terjadi banjir, tentu tidak menutup kemungkinan debit air yang meningkat itu tetap berbahaya bagi manusia. Saya jadi teringat cerita seorang teman Mesir, yang dilarang ibunya mendekati air sungai ini, sebab dua orang kerabatnya meninggal tenggelam di dalamnya. Pikiran aneh saya lalu membayangkan, betapa mudah bunuh diri dengan melompat dari jembatan Qashr al-Nîl itu. Hus!

“Mesir adalah hadiah dari Sungai Nil.”

Begitu sejarawan Yunani abad ke-5 SM, Herodotos, menulis tentang kunjungannya ke Mesir. Ia mengatakan hal tersebut setelah mengamati bahwa sungai inilah kunci tersedianya kehidupan bagi Mesir, berupa suplai air yang stabil dan menyuburkan tanah, memungkinkan aneka tanaman tumbuh sebagai sumber makanan bagi manusia dan hewan-hewan. Banjir yang terjadi rutin di waktu yang bisa diprediksi menjadi asal mula penduduk Mesir menentukan jadwal bercocok tanam.

Setelah banjir surut, endapan lumpur yang ditinggalkan Nil mengandung unsur hara yang sangat dibutuhkan tumbuhan. Saat itulah para petani mulai menanam berbagai tumbuhan seperti gandum, kapas, sampai papirus. Sebelum banjir datang lagi, seluruh tanaman sudah harus dipanen agar tidak rusak sia-sia diterjang air. Begitu terus berulang menjadi siklus, yang nantinya menjadi awal manusia mengamati pergantian musim dan tahun.

Bersamaan dengan mengamati perubahan Nil, orang Mesir juga mengamati pergerakan benda-benda langit. Langit dalam pandangan mereka adalah perairan yang lebih besar dan agung daripada Nil. Sebab itu mereka meyakini bahwa langit adalah sumber kehidupan, sebagaimana Nil menghidupi mereka. Ini jadi awal konsep ketundukan alam pada kekuatan gaib di luar manusia, yang kemudian berkembang menjadi agama dan ketuhanan.

Pergerakan matahari yang pasti terbit lagi setelah tenggelamnya, juga karakteristik Nil yang teratur meluap dan surut setiap tahunnya, membuat mereka memercayai adanya kehidupan yang abadi setelah kematian. Bisa dibilang, pokok dari seluruh kepercayaan (agama) Mesir kuno: pemujaan binatang dan dewa-dewa, serta seluruh pengetahuan orang Mesir mengenai alam dan manusia, semuanya terhubung dengan sungai purba ini.

Jika Anda meminum air Nil, anda akan selalu kembali ke Mesir.

Saya selalu penasaran atas kata-kata Herodotos yang tak kalah terkenalnya itu. jika itu benar berlaku, sampai kapan? Herodotos seolah meramal bahwa Nil abadi, dan Mesir akan terus hidup selama Nil masih ada. Saya bergidik mengingat air sungai ini telah mengalir sejak tiga puluh juta tahun yang lalu, dan masih saja kuat menempuh jarak sejauh enam ribu enam ratus kilometer (tiga kali lipat panjang Pulau Jawa!). Sejak lama orang mengagumi Nil, bertanya-tanya kekuatan macam apa yang menggerakkan aliran Nil sekaligus melindunginya sampai bermuara di laut, padahal bisa saja berhenti atau surut di tengah.

Tapi, perkataan Herodotos itu kan sudah dua ribu lima ratus tahun yang lalu. Sangat mungkin akan kedaluwarsa, habis masa berlakunya. Bagaimana jika suatu saat nanti Mesir atau Nil sudah tidak ada lagi, oleh sebab tangan manusia? Buktinya, banjir tahunan yang dahulu tetap saja, kini tinggal cerita.

Perayaan yaum wafâ’ al-nîl juga sebatas tanda di kalender, dalam rangka mengenang kebaikan Nil yang sudah membuat pendahulu mereka ada dan dapat dibanggakan sebagai Umm al-Dunyâ. Apalagi, berita terbaru yang saya dengar, bendungan terbesar di Afrika, Bendungan Hidase (GERD) telah diresmikan. Hal ini menambah ancaman kekeringan bagi Nil selain polusi dan pemanasan global. Bisa dibayangkan jika Nil surut, tentu saja Mesir akan bangkrut.

Saya melamun memandangi air sampai matahari terbenam. Sungai Nil harusnya abadi, kecuali manusia merasa cukup mengabadikannya dalam ingatan.

artikel ini telah diterbitkan oleh buletin Prestasi dan diedit ulang oleh Kaeswe Media.

Choirotin N

Kru Buletin Prestasi

 

Lihat Juga

5 Keunikan Hari Raya Idul Adha di Negeri Fir’aun

Kairo, kswmesir.org (15/9) — Hari raya Idul Adha tinggal menghitung hari. Tentunya, merayakan lebaran di …