Home / Islamiah / Kenangan Syekh Khatib Al Husaini dengan KH. Maimoen Zubair
Syekh Khatib Al Husaini saat bertamu di kediaman KH Maimoen Zubair | sumber foto: akun Facebook Majid Kamil (putra almaghfurlah KH. Maimoen Zubair)

Kenangan Syekh Khatib Al Husaini dengan KH. Maimoen Zubair

Hubungan antara Syekh Khatib dengan Indonesia bermula dari kakek buyutnya yang bernama Syarif Umar Abu Surur. Di mana beliau melakukan perjalanan dari Hadramaut dalam rangka mengunjungi kerajaan Islam pertama di Jawa.

Sambutan hangat diberikan sang raja kepadanya. Kemudian pergi ke Cirebon dan menikah di sana. Setelah itu melanjutkan kelananya ke daerah Jawa Timur selama 20 tahun.

Tak berhenti tentang itu, hubungan Syekh Khatib berlanjut dengan salah satu tokoh besar Indonesia yaitu KH. Maimoen Zubair atau yang lebih akrab dipanggil Mbah Moen.

Pertama kali Syekh Khatib tiba di Indonesia, beliau berkunjung ke pondok asuhan Ustaz Zuhrul Anam. Berawal dari sini, momen yang akan mempertemukan antara Syekh Khatib dengan Mbah Moen dimulai.

Ketika sudah berada di pondok, Syekh Khatib diberitahu bahwa keluarga Ustaz Zuhrul Anam ingin berbincang bersama. Saat itu, ketika melihat putri Mbah Moen—yang juga keluarga pondok, beliau melihat pancaran cahaya dan keistimewaan yang dalam. Rasa ingin bertemu dengan Mbah Moen pun semakin dirasakan Syekh Khatib.

Bulan Oktober 2018, Syekh Khatib mengunjungi kediaman Mbah Moen. Hanya saja waktu itu beliau sedang sakit dan tidak bisa melayani tamu. Akhirnya, Syekh Khatib cuma bisa berbincang dengan putra-putra beliau: Gus Wafi dan Gus Rouf. Dan Syekh Khatib menganggap bahwa ini merupakan pertemuan batiniyah yang akan memperkuat hubungannya dengan mereka. 

Suatu waktu ketika Syekh Khatib sudah kembali ke Mesir, Gus Rouf menelepon beliau via gawai. Menyampaikan bahwa dia sedang bersama Mbah Moen dan sudah menceritakan tentangnya, sekaligus hendak mengucapkan salam untuk Syekh Khatib.

Dalam kesempatan itu, Syekh Khatib berbincang langsung dengan Mbah Moen. Lewat perbincangan tersebut, beliau mengetahui bahwa Mbah Moen adalah sosok yang alim, rendah hati, penyayang, menyukai orang-orang yang mencintai Allah Swt. dan Rasulullah saw., serta mencintai para ulama.

Mbah Moen menanyakan keberadaan Syekh Khatib saat menyapanya lewat gawai. Beliau pun menjawab bahwa dia sedang berada di Mesir. Selain itu, Mbah Moen ingin bertemu dengannya ketika berkunjung kembali ke Indonesia. Beliau berharap bisa menemuinya walaupun dalam keaadaan yang tidak memihaknya beserta umur yang akan mencapai 92 tahun.

Syekh Khatib dalam jawabnya berusaha untuk menyakinkan Mbah Moen.

Empat bulan sebelum wafatnya Mbah Moen, bertepatan di bulan April, beliau akhirnya bisa bertemu di Indonesia. Kesan pertama Syekh Khatib ketika melihat Mbah Moen keluar dari kamar adalah seorang alim yang cinta ilmu, terpancar cahaya ketakwaan, rahasia hadis suci, dan misteri cahaya kecintaan kepada ahlul bait yang mulia.

Pembahasan mengenai Indonesia mengawali perbincangan kala itu. Syekh Khatib mengutarakan bahwa dia mencintai negeri dan bangsa Indonesia. Sebelumnya, dia sudah membaca tanda tentang bagian di bumi yang berdampingan, terdapat kebun anggur, persawahan, dan pohon kurma yang bercabang maupun tidak. Dan diyakini itu adalah negara kepulauan Indonesia. Mbah Moen pun membenarkan pernyataan itu.

Meneruskan percakapannya dengan Syekh Khatib, Mbah Moen berkata bahwa beliau sungguh mencintai wali sembilan keturunan ahlul bait yang menyebarkan Islam di Indonesia dan mereka memiliki keutamaan masing-masing.

Berkahnya ilmu laduni terlihat dalam diri Mbah Moen. Tanda-tanda akan itu disebutkan oleh Syekh Khatib. Di antaranya ialah menyebarluaskan kasih sayang kepada umat sebelum mengajarkan ilmu. Kasih sayang itulah yang telah dicurahkan Mbah Moen untuk semua manusia.

Kemudian, tiga hal yang dimiliki Mbah Moen menurut penuturan Syekh Khatib ialah ketakwaan yang melemahkan perkara haram, kesabaran atau kemurahan hati yang menaklukkan kejelekan, dan akhlak mulia dalam berkehidupan.

Terakhir, Syekh Khatib mempunyai keinginan untuk berkunjung kembali di rumahnya dan masuk kamarnya sekaligus bertabaruk dengan barang-barang peninggalan Mbah Moen.

Beliau berharap kepada keturunan Mbah Moen agar bisa mengumpulkannya beserta pendapat-pendapat beliau, sehingga kita terus bisa terikat dengan berkahnya. Dan ini termasuk sunah Allah di bumi.

Sumber artikel: kenangan Syekh Khatib Al Husaini yang beliau sampaikan saat peringatan 40 Hari Wafatnya KH. Maimoen Zubair di Aula Daurah Lughah (10/09/2019)

Lihat Juga

Ramadan di Tengah Pandemi, Apa yang Sebenarnya Kita Rindukan?

Dua pekan terakhir, sering tersiar di media sosial doa-doa agar dipertemukan kembali dengan bulan suci …