Home / Islamiah / Hubungan Antara Ilmu Usul Fikih dan Agama
sumber foto : https://www.facebook.com/alazharmemory/

Hubungan Antara Ilmu Usul Fikih dan Agama

Sebagai salah satu warisan khazanah Islam klasik, Usul Fikih merupakan ilmu yang sangat mulia yang memiliki peranan penting dalam memajukan peradaban umat. Perkembangan pemikiran Usul Fikih tidak hanya menambah kekayaan ilmu itu sendiri, tetapi juga membantu mewujudkan dan ikut serta dalam membuktikan bahwa Syariat Islam mempunyai nilai relevansi di setiap zaman dan di segala tempat tanpa harus kehilangan karekter Islam sendiri.

Dengan kaidah-kaidah Usul Fikih, para mujtahid menjadi mudah dalam menyimpulkan hukum suatu permasalahan yang timbul seiring bergantinya zaman. Dengan begitu, kita dapat mudah untuk mengetahui tingkat legalitas kegiatan kita di Bumi ini.

Pentingnya Ilmu Usul Fikih

Imam Isnawi seorang tokoh tersohor pertengahan abad ke delapan yang wafat pada tahun 772 H.memiliki ungkapan yang sangat mengesankan tentang Usul Fikih, “Usul Fikih adalah ilmu yang  manfaatnya sungguh besar, kedudukannya sangat mulia, kemuliaan begitu tinggi, karena ia menjadi alat untuk menetaskan hukum Islam, dan panduan fatwa-fatwa seorang mukalaf untuk keselamatan dunia dan akhiratnya, ia adalah tongkat berijtihad, dan ilmu-ilmu Islam yang paling penting sebagaimana yang dideskripsikan oleh para ulama dan pakar.”

Ungkapan Al Isnawi di atas seolah sedang menjabarkan ungkapan pendahulunya yaitu Al Ghazali yang wafat pada 505 H, “Ilmu yang paling agung adalah ilmu yang memadukan antara logika dan teks-teks syariat, seperti Usul Fikih, bukan ilmu yang hanya berpusat pada logika seperti Ilmu
Matematika atau Geometri, juga bukan ilmu yang mengandalkan periwayatan saja seperti Hadis dan Tafsir”.

Setelah Imam Isnawi, datang seorang tokoh fenomenal lintas agama, budaya, dan bahkan peradaban; Ibnu Khaldun (808 H.) Dia menegaskan dalam Muqaddimahnya, “Ketahuilah! Ilmu Usul Fikih adalah keilmuan Islam yang paling penting dan mulia kedudukannya, juga ilmu yang paling banyak manfaatnya, yaitu ilmu yang berisi kaidah penggalian hukum dari teks-teks syariat.”

Lebih lanjut lagi, Sa’duddin Hilali dari kalangan kontemporer menyebutkan paling tidak dua peran besar Usul Fikih dalam menjaga peradaban Islam:

1) Menjadi induk kematangan hukum Islam, ditandai dengan kekayaan pendapat dalam buku-buku klasik dengan segala corak kepenulisannya: Maudhuât, Mukhtasharât, Hawasyi, Taqrîrât dan lain-lain, yang kemudian melahirkan kepluralan pendapat, dan kepluuralan inilah yang pada akhirnya mampu memproduksi kemoderatan dalam bersikap.

2) Menjadi alat pembugaran hukum seiring berkembangnya zaman, dengan segala penafsiran pembugaran hukum itu.

Dari nukilan-nukilan di atas, sangat terang kiranya bahwa Usul Fikih adalah ilmu paling esensial dalam penggalian hukum. Sehingga, menjadi sebuah keniscayaan bagi setiap pengkaji Islam agar mempelajari disiplin ilmu ini secara serius, dan tidak dibenarkan menggali sebuah hukum tanpa
melakukan standarisasi ke muka Usul Fikih.

Bahkan dari pendapat Sa’duddin Hilali, ternyata Ushul Fikih tidak hanya sebatas ilmu metodologi memahami teks syariat saja, tetapi lebih dari itu, ilmu ini merupakan buah karya murni umat Islam yang mengandalkan logika dan rasionalitas dalam penggunaannya. Sejauh ini mungkin kita hanya berfikir, bahwa Ushul Fikih dipakai sebagai sarana atau lebih tepatnya lagi alat untuk menghasilkan sebuah hukum saja, hal ini kemudian mempersempit pemikiran dan menghambat untuk lebih memahami seluk beluknya.

Titik Temu Antara Usul Fikih dan Agama

Menurut Dr. Ali Jumáh, Usuul Fikih adalah ilmu yang hanya dimiliki oleh umat Islam, ia murni produk keilmuan Islam sebagaimana Ilmu Hadis. Bahkan jika diulik lebih dalam, ia juga sebuah metodologi ilmiah yang menunjukan dan menjaga jati diri Islam itu sendiri dari penyelewangan agama dan kenakalan akademik, juga metodologi yang penuh dengan nuansa keobjektifan.

Sebut saja elemen pertamanya, itu menunjukan kepada unsur sumber-sumber kajian (mashâdir al bahts), elemen kedua menunjukan kepada cara penyajian kajian (thuruq al bahts), dan elemen ketiga menunjukan kepada syarat-syarat pengkaji (syurûth al bâhits). Ketiganya adalah unsur metodolodogi kajian ilmiah kapanpun dan di manapun yang tidak boleh luput.

Sehingga, tanpa Ushul Fikih keeksistensian Islam sebagai agama akan luntur bahkan bisa tergilas oleh zaman. Dengan bahasa sederhana, agama Islam seperti rumah, dan Ushul Fikih adalah pondasi rumah sekaligus dalam satu waktu benteng yang memagari rumah itu.

 

Lihat Juga

Ramadan di Tengah Pandemi, Apa yang Sebenarnya Kita Rindukan?

Dua pekan terakhir, sering tersiar di media sosial doa-doa agar dipertemukan kembali dengan bulan suci …