Home / OPINI / kolom / Waktu Luang
Gambar oleh Arek Socha dari Pixabay

Waktu Luang

Tilik viral. Film pendek yang disutradarai oleh Wahyu Agung Prasetyo itu cukup berhasil membuat perbincangan kawan-kawan komunitas kritik film yang saya ikuti di Kairo menjadi lebih hangat. Ada seorang kawan yang mengaku sudah menonton film itu berkali-kali dan ia tetap terbahak-bahak dengan dialog kocak para pemainnya. Ia yang orang Jawa merasa dekat dengan logat, budaya dan mitos yang digambarkan secara jenaka dalam film tersebut. Seorang kawan yang lain justru mengaku merasa jengah dengan stereotip-stereotip yang ada di sepanjang film. Katanya, ia bahkan tidak bisa tertawa selain pada momen ibu-ibu satu truk menyerbu pak polisi secara bersama-sama agar mereka tidak ditilang. Menurutnya, hal itu tampak sangat kocak. Pada bagian stereotip, yang ia sesalkan kurang lebih sama seperti apa yang disesalkan oleh Hikmat Darmawan dalam kritikannya terhadap film ini.

Selain mereka, ada seorang kawan di luar komunitas yang berpendapat, bahwa opini seseorang tentang Tilik, apa pun bentuknya, sering kali hanya berkisar pada bagaimana cara dia melihat sebuah film; entah ia melihatnya sebagai sebuah narasi yang dibangun dari suatu realitas, atau ia melihatnya sebagai suatu realitas yang dibangun dari sebuah narasi. Jika menggunakan kacamata pertama, seseorang akan melihat film Tilik benar-benar hanya sebagai sebuah kisah yang begitu dekat dengan realitas sehari-hari. Tanpa ada pretensi apa-apa.

Sedangkan jika menggunakan kacamata kedua, seseorang akan punya cukup banyak waktu untuk menggelisahkan film tersebut. Karena hal-hal yang dulunya hanya merupakan sebuah stereotip di masyarakat (seperti ibu-ibu itu tukang gosip dan bawel, orang-orang desa itu cenderung tidak paham seluk-beluk dunia digital, perempuan muda yang belum menikah itu aib, pekerjaan yang menghasilkan uang dalam waktu singkat adalah pekerjaan yang tidak beres, kaum lelaki itu harus selalu terdiam kebingungan ketika beradu argumen dengan kaum wanita, dan beberapa stereotip lain), kini telah dipersepsikan sebagai sebuah realitas yang nyata dan universal. Melalui film itu, hal-hal tersebut setidaknya telah ditahbiskan menjadi sebuah fakta sosial yang wajar terjadi di mana-mana, bukan lagi sebagai semacam stereotip di tengah masyarakat yang senantiasa harus dievaluasi.

Tertarik untuk mengetahui lebih banyak pendapat tentang Tilik, saya sempat mencari opini tambahan dari belantara dunia maya. Di sana, saya menjumpai opini sederhana dari Rumadi Ahmad, yang menurut saya memiliki kegelisahan substansial. Ia mendasari opininya dengan satu pertanyaan retoris: “mengapa yang menjadi trending topik justru Bu Tejo yang karakternya cenderung antagonis?” Membaca pertanyaan itu, sontak saya tersentak dan langsung menimpali, iya juga ya, mengapa mayoritas penonton film tersebut merayakan karakter Bu Tejo yang perbuatannya bahkan tidak mereka benarkan sejak dari alam bawah sadar? Apakah dengan merayakannya sebenarnya kita sedang merayakan sisi bengis kita yang mendapatkan pembenaran melalui akhir film tersebut, ataukah merayakannya hanyalah sebuah ekspresi kagum dari kuatnya karakter yang dibangun Siti Fauziah untuk lakon Bu Tejo itu sendiri?

Saya pribadi tidak benar-benar bisa menjawab. Akan tetapi yang saya tahu, pertanyaan-pertanyaan serupa juga pernah didiskusikan oleh para kritikus film dunia, tepatnya ketika mereka tengah membahas lakon Joker (2019) yang diperankan oleh Joaquin Phoenix.

Setelah cukup banyak mengetahui pendapat orang lain tentang Tilik, alih-alih merasa senang atau kesal, saya pribadi justru merasa cemas. Barangkali tidak seperti apa yang Anda pikirkan, saya cemas bukan karena urusan stereotip atau problem substansial yang ada dalam film itu, sebagaimana kedua hal tersebut cukup digelisahkan oleh banyak orang. Saya cemas karena ketika menontonnya, saya malah merasa kosong dan justru terobsesi untuk menjawab dua pertanyaan sederhana: mengapa Bu Tejo begitu berhasrat untuk mencibir seorang Dian? Apa yang begitu mendorong Bu Tejo untuk mengecualikan Dian dari seluruh warga desa, kemudian memosisikannya sebagai sosok liyan?

Setelah melakukan sedikit perenungan, menurut saya, salah satu sebab yang paling prinsipiel, substansial dan begitu mendorong Bu Tejo untuk menjadi Bu Tejo, sebenarnya hanyalah waktu luang. Tepatnya waktu luang yang tidak tahu harus diisi dengan kegiatan apa. Karena tanpa hal itu, hemat saya Bu Tejo tidak akan bisa melakukan aksinya. Meskipun benar juga, waktu luang yang tidak tahu harus diisi dengan apa tetaplah satu hal yang memiliki dua sisi. Selain berkemungkinan memberikan kita kesempatan untuk menjustifikasi segala sesuatu secara negatif, ia juga berkemungkinan mengajak kita untuk merenungi segala sesuatu secara positif.

Barangkali di sini, Bu Tejo adalah contoh orang yang menghabiskannya dengan cara yang negatif. Meskipun, ada juga kemungkinan bahwa Bu Tejo melakukan semua itu tanpa dilandasi dengan motif-motif personal. Mungkin, ia hanya melakukan semua itu karena tidak banyak hal yang bisa dilakukan di atas truk selama perjalanan menuju rumah sakit. Ia hanya tidak tahu harus berbuat apa. Sedangkan di sana, ia sedang bersama sekelompok warga desanya. Diam saja sepanjang perjalanan tentu menjadi satu opsi yang sangat membosankan. Sedangkan berbicara mengenai tema-tema berat bukanlah sebuah pilihan yang tepat.

Dari sini mungkin kita bisa menyimpulkan, bahwa alasan yang mendorong seseorang menjadi begitu berhasrat untuk melihat sisi buruk dari segala sesuatu, kemudian begitu memotivasinya untuk terus-menerus melakukan olok-olok, sebenarnya tidak melulu berkaitan dengan niatan-niatan buruk atau konflik-konflik serius. Barangkali, alasannya hanyalah ketidaktepatan pilihan dalam menghabiskan waktu luang yang tidak tahu harus diisi dengan apa. Hanya itu.

Ngomong-ngomong, di saat pandemi seperti sekarang, bukankah kita juga lebih banyak mendapati waktu luang yang tidak tahu harus diisi dengan apa?

Tulisan ini telah diterbitkan di Buletin Prestasi.

Lihat Juga

Perihal Simbol dan Metafora dan Persinggungan Keduanya

Yang menarik dari dari ketidak-tertarikan kita pada bahasa Indonesia kita adalah kesalahpahaman yang disengaja. Kita …