Home / OPINI / Tajuk / Yang Tak Boleh Luput dari Masisir Selama dan Pascapandemi
Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Yang Tak Boleh Luput dari Masisir Selama dan Pascapandemi

Kesamaan terbesar ketika dan sebelum pandemi ialah waktu luang yang dimiliki Masisir. Waktu luang ini merupakan fasilitas terbesar yang dinikmati mereka. Al Azhar yang tidak mewajibkan kuliah ketat, sejatinya memberikan kesempatan mahasiswa untuk meraup ilmu di luar bangku muhadharah seperti majelis talaqi maupun forum kajian.

Alih-alih dimanfaatkan dengan maksimal, faktanya masih tanda tanya. Sejauh ini memang belum ada media yang merilis statistik peserta dua lini tadi: talaqi dan kajian. Namun, secara umum dari 7000-an mahasiswa, angka yang terserap dalam majelis talaqi maupun forum kajian sudah bisa terlihat minim dan tak sebanding dengan total Masisir.

Belum lagi ketika pemanfaatan waktu tadi diukur lewat publikasi karya ilmiah berupa artikel, makalah, infografik, maupun video, semuanya menunjukkan bahwa Masisir secara umum masih kurang produktif. Kenyataan ini tentu membuat penasaran publik akan kesibukan Masisir selama ini. Kemudian, saat pandemi begini, apa kesibukan mereka?

Di lini non akademik, pada awal karantina, Masisir menjalani hari-hari mereka dengan mengenyam imbauan-imbauan anti Covid-19 hingga bosan. Seiring berjalannya waktu, beberapa perlombaan virtual juga diadakan PPMI-KBRI agar mereka mendapat hiburan. Aktivitas mahasiswi saat itu jua terbilang menarik perhatian publik ketika mereka banyak berkreasi dengan membuat jajanan-jajanan, kue-kue, dan tentu saja minuman spektakuler Dalgona—yang juga menarik perhatian mahasiswa.

Selain itu, para mahasiswa dan mahasiswi juga sempat memopulerkan joging dari tengah kota Cairo hinga sungai Nil. Aktivitas di atas mewarnai hari-hari Masisir kala pandemi. Mereka memecah kebosanan dengan aktivitas asik-asik. Bicara hal ini, status WhatsApp dan stori Instagram adalah saksinya.

Namun di lini akademik, jika bicara mayoritas, faktanya tak jauh berbeda dengan Masisir sebelum pandemi; sama-sama belum produktif dan belum memanfaatkan waktu luangnya dengan bagus. Kesamaan ini didapat dengan mengukur tingkat publikasi karya ilmiah Masisir. Adapun jika diukur dari sisi membaca kitab, menyimak talaqi daring, dan berdiskusi daring, ini perlu disurvei terlebih dahulu karena aktivitas ini tak tampak di publik.

Kalau bicara harapan, tentu semoga mayoritas Masisir bersibuk di tiga aktivitas di atas. Selain banyaknya kitab atau buku-buku yang tersedia di Mesir, mereka juga bisa mengakses ilmu dan pengetahuan lewat buku-buku pdf. yang tautannya sering dibagikan di grup WhatsApp. Contoh lain, mereka juga bisa mengakses buku-buku tersebut via internet seperti noor-book.com, waqfeya.com, ataupun aplikasi Maktabah Syamilah—dengan hati-hati, tentunya, agar tak salah referensi buku yang haluannya bertentangan dengan Al Azhar.

Al Azhar sendiri juga memberikan akses bacaan kepada mahasiswanya lewat situs azhar.eg yang menyajikan banyak hal. Mulai dari majalah bulanan yang bisa diakses lewat azhar.eg/magazine; hasil penelitian yang bisa diakses lewat azhar.eg/magmaa; koran mingguan yang bisa diakses lewat azhar.eg/sawtalazhar; kemudian kumpulan fatwa dan artikel di situs azhar.eg.

Masisir juga bisa mengakses rekaman talaqi melalui medsos terutama kanal YouTube dan Facebook. Di YouTube, ada banyak kanal berisi kumpulan rekaman talaqi dari masyayikh Al Azhar yang memuat berbagai disiplin ilmu. Di antaranya, kanal الأزهر الشريفOfficialAzharEg, أزهر تيفيAzharTv, الجامع الأزهر,دارالإفتاء المصرية ,العلم والعلماء , ساحة الدح, قناة الناس, dan almadyafatv. Beberapa masyayikh juga memiliki kanal YouTube pribadi. Sebut saja Dr. Ali Gomaa, Dr. Ahmed Omr Hashem Dr. Yosry Gabr, Syekh Alaa Naema, almarhum Syekh Sya’rawy dan almarhum Syekh Ramadan Al Bouthy.

Yang tak kalah penting setelah membaca buku dan menyimak talaqi daring ialah berdiskusi. Diskusi di sini bisa berupa berupa bertukar pendapat dengan pembaca buku atau penyimak talaqi yang sama, bisa juga dengan pengayaan materi dari pembaca atau penyimak referensi yang berbeda, dan bisa juga berdebat dengan siapapun dalam topik tertentu.

Tiga aktivitas sebagaimana disinggung barusan sebetulnya bukanlah hal baru. Semua Masisir pastinya sudah mengetahui, bahkan menganggap pembahasan di atas itu klise dan basi. Kendati demikian, jika melihat situasi sekarang kala peran Masisir dalam tatanan nasional masih perlu dibangun secara serius, tentu tiga aktivitas tersebut tetap perlu digaungkan sebagai tugas yang tak boleh usai.

Terlebih, tiga aktivitas di atas barulah tahap awal bagi Masisir. Pada tahap selanjutnya, masih ada artikel, makalah, video, dan lain sebagainya yang harus digarap sebagai wujud usaha penyebaran ajaran Al Azhar. Peran Masisir pada tahap dua inilah yang menuntut produktivitas karya dalam berbagai rupa. Okelah jika di tanah air sudah banyak lembaga, sekolah, majelis, mimbar, bahkan lini bisnis yang dijabat oleh alumni Al Azhar. Namun, jika bicara masalah-masalah yang masih melanda kalangan Muslim Indonesia seperti dangkalnya literasi beragama, sesat pikir, rendahnya minat baca, mudah terpancing isu identitas, dan kerap debat tak berbobot dengan yang seiman, kiranya Masisir harus menyadari peran yang harus dijalani.

Selama masalah-masalah tersebut masih bercokol, selama itu pula wacana publik Indonesia mudah disesaki dengan kegaduhan jika ada isu yang menyinggung antarkalangan. Selama wacana publiknya masih kerap diisi kegaduhan, selama itu pula wacana publiknya tak didominasi hal-hal yang inovatif seperti inovasi terkait pengembangan SDM, teknologi, ekonomi, dan budaya. Selama hal-hal inovatif tak mendominasi wacana publik, selama itu pula peran Masisir sebagai kaum terpelajar masih dipertanyakan. Oleh sebab itu, gerakan tahap pertama (membaca, mengaji, berdiskusi) dan tahap kedua (pubikasi karya) benar-benar harus menjadi misi primer yang diperankan Masisir. 

Di masa pandemi sekarang, tantangan Masisir dalam mengelola waktu luang yang bermata ganda ini semakin berat. Alasannya ialah kegiatan belajar-mengajar di kuliah, ruwaq, madyafah, dan lembaga keilmuan lain tidak akan kembali seperti sedia kala hingga tahun depan atau hingga vaksin bisa diakses publik. Ini berarti Masisir akan lebih banyak berada di rumah dengan porsi waktu luang yang bertambah.

Waktu luang ini merupakan kebebasan, dan kerap kali Masisir banyak terlena dengan yang satu ini. Contohnya, ketika tidak ada absen ketat di kuliah, banyak yang tidak menghadiri muhadharah. Mungkin bisa diterima alasannya jika bolos kuliah demi talaqi atau kegiatan berguna lainnya. Akan tetapi jika sudah gaib di kuliah, gaib di majelis ilmu, dan gaib dari agenda akademik, yang seperti ini tentu harus dibenahi.

Dalam pembenahan inilah PPMI, Kekeluargaan, Wihdah, Senat, afiliatif, dan almamater, perlu menggerakkan anggotanya agar misi besar sebagai penyebar ajaran Al Azhar bisa diwujudkan. Sebagai organisasi mahasiswa, agenda-agenda dalam rangka memberi manfaat untuk masyarakat tanah air tak boleh mangkir. Jika para alumnus telah mengabdikan diri mereka di Indonesia lewat jabatan atau profesi yang digeluti, Masisir juga bisa mengabdikan diri lewat karya-karya berguna bagi nusa dan bangsa.  

Walau belajar adalah kewajiban mahasiswa yang tak perlu didikte organisasi, tetapi mayoritas Masisir masih menunjukkan rendahnya intensitas dalam dua hal tadi. Ini artinya masih banyak yang kesulitan mengatur dirinya.

Khusus pelajar DL, mereka mungkin butuh dorongan kakak pembimbing dalam kegiatan belajarnya. Di sinilah organisasi bisa membantu menyiapkan kakak-kakak. Adapun bagi yang sudah memasuki tahun kedua di Mesir, mereka mungkin perlu mood atau lingkungan yang mendukung. Jika masalahnya adalah semangat, organisasi dan orang terdekat bisa menyemangati. Namun jika masalahnya adalah kebutuhan akan lingkungan yang mendukung, organisasi-organisasi pun sebetulnya bisa menyediakan konsep serupa Kawakib, Rumah Syariah, Markas Usuludin, Markas Lughah—sesuai kebutuhan. Sedangkan bagi yang lebih dari dua tahun di sini kiranya hanya perlu kesadaran diri saja, karena sudah dianggap dewasa.

Adapun dalam hal pengembangan diri atau program tahap kedua (berkarya), organisasi-organisasi pastinya bisa memberikan pelatihan dan fasilitas kepada seluruh anggotanya. Yang jelas, organisasi terlibat dalam agenda akademik Masisir dan semua elemen saling mendukung demi tercapainya harapan bersama sebagai mahasiswa/i Al Azhar As Syarif.

Demikianlah agenda-agenda yang tak boleh luput dari Masisir selama pandemi. Seberapa bagus gerakan akademiknya, itu yang akan menentukan kecakapan mereka; seberapa kecakapan mereka, itu akan menentukan kadar peran mereka di masyarakat; dan kadar peran mereka di masyarakat pada akhirnya akan turut menentukan kualitas bangsa khususnya Muslim Indonesia.

Bagaimanapun, agenda Masisir di masa ini pastilah menjadi tolak ukur gambaran mereka pascapandemi. Jika mereka bisa memanfaatkan waktu luangnya, hasilnya akan produktif dan progresif. Begitupun sebaliknya, jika mereka lagi-lagi mengulangi kesalahan sama seperti sebelum pandemi, berarti Masisir akan begini-begini saja. Dengan kata lain, agenda pascapandemi adalah lanjutan agenda kala pandemi.

Pertanyaannya adalah, apakah sejak saat pandemi begini Masisir bisa melangsungkan gerakan-gerakan tadi? Jawaban mereka adalah gambaran nyata Masisir pascapandemi.